TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA REFORMASI DAN INFORMASI, PERUBAHAN PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Era reformasi ditandai dengan tergulingnya reszim pemerintahan Soeharto,  dibarengi dengan krisis moneter, ekonomi, dan politik telah mendorong arus pembaruan dalam semua aspek kehidupan (Hujair AH. Sanaky, 2015:1). Pembaruan dan reformasi[1] telah menggerakkan perubahan dalam semua aspek kehidupan, bahkan berdampak pada euforia[2] kebebasan yang nyaris kebablasan.[3] Era reformasi, selain memberikan harapan besar hadirnya kebebasan, keamanan, dan kenyaman untuk hidup di bumi pertiwi Indonesia ini.

Euforia reformasi telah menggiring keinginan publik untuk membongkar banyak hal dalam tatanan kehidupan bangsa Indonesia, termasuk bidang pendidikan, walaupun sampai saat ini reformasi belum menunjukkan hasil dan perubahan yang signifikant. Kondisi krisis moneter dengan kompetisi bebas di ambang pintu dan sudah dimulai, situasi politik yang kurang kritis dan demokratis, juga ikut membawa perubahan pada kehidupan masyarakat Indonesia. Melihat kenyataan ini, maka  ada baiknya kita  berfikir sejenak tentang kondisi dan pengkondisian Sumber Daya Manusia yang ada di Indonesia.

Tanpaknya wajah pendidikan kita di Indonesia harus dirubah, sebab proses perjalanan peradaban modern bangsa ini ke masa depan akan bergerak di atas peralatan yang amat rapuh. Katakan saja ada 88.8 persen sekolah di Indonesia, mulai dari SD hingga SMA/SMK, belum melewati mutu standar pelayanan minimal.  Berdasarkan data yang ada, 40.31 persen dari 201.557 sekolah di Indonesia berada di bawah standar pelayanan minimal, 48.89 persen pada posisi standar pelayanan minimal, dan 10.15 persen yang memenuhi standar nasional pendidikan. Katakan saja, sekolah-sekolah yang dinilai mampu bersaing dengan mutu pendidikan negara-negara lain, yang selalu disebut dengan istilah rintisan sekolah bertaraf internasional hanya 0.65 persen.  Tercatat sekitar 3,600 perguruan tinggi swasta dan hanya 92 perguruan tinggi negeri. Dari jumlah itu terdapat 6.000 program studi yang belum terakreditasi (Kompas, 18/5/2012), 42 persen dari semua tenaga pengajarnya masih berpendidikan S-1. Hanya 6-7 persen dari semua program studi yang terakretitasi A (Hafid Abbas, 2015:7). Inilah kondisi dan realitas pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan.

Saat ini pendidikan di Indonesia berhadapkan dengan perkembangan dunia yang semakin terbuka dan transfaran. Hal-hal yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin, hal-hal yang tadinya tabu sekarang menjadi profan dan massal. Apa yang terjadi kadang-kadang sulit diprediksi.  Muncul pertanyaannya, siapkah kita untuk menghadapi kompetisi bebas dalam dunia reformasi dan globalisasi? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu saja setiap orang akan memberikan respon menurut sudut pandangnya masing-masing. Ada yang dengan lantang menyatakan siap menghadapi perubahan tersebut dengan “persiapan” yang mungkin kurang memadai.  Ada pula dengan suara yang “kurang optimis” menyatakan belum siap dengan berbagai perubahan. Biarlah perubahn itu terjadi. Sementara kita menghadapi percepatan perkembangan teknologi informasi comunikasi yang begitu cepat,  menyebabkan terjadi beberapa konsekuensi logis seperti percepatan aliran ilmu pengetahuan, dan tentu saja akan menjadi ancaman bagi sistem pendidikan yang selama ini berjalan.

Selengkapnya silahkan download 

Comments

Got something to say?