Bahan Ajar Modul VI : Metodologi Studi Islam

Kajian pemikiran Islam sempat menjadi perdebatan. Secara garis besar, kita dapat membedakan tiga bidang pemikiran dan kajian Islam, yaitu aliran kalam (teologi), aliran fikih, dan aliran tasawuf.  Pada pembahasan ini, akan dibicarakan ketiga bidang pemikiran tersebut dengan menggunakan pendekatan kronologis yang terdapat dalam sejarah Islam.

1.      Aliran-aliran Kalam

Islam diyakini sebagai agama “rahmatan li al ‘alamin”, tetapi ironisnya para penganutnya ternyata tidak selamanya bersifat posetif. Salah satu buktinya adalah peristiwa tahkim, di mana peristiwa ini telah membuat bencana bagi umat Islam sehingga terpecah, paling tidak menjadi “dua kelompok besar”.  Kelompok pertama adalah pendukung Mauawiyah di antaranya adalah Amir bin As, sedangkan kelompok Islam kedua adalah pendukung Ali bin Abi Thalib.[1]

Perkekbangan selanjutnya, kelompk Ali bin Abi Thalib menjelang dan setelah tahkim  terpecah menjadi dua, yaitu kelompok yang senantiasa setia kepada kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, di antaranya adalah Abu Musa al-Asy’ari dan kelompok kedua, adalah kelompok yang membelot atau keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini, “meninggalkan barisan Ali bin Abi Thalib karena tidak setuju dengan sikap Ali ibn Abi Thalib dalam menerima arbitrase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan tentang khilafah dengan Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan”.[2]  Mereka menarik dukungannya dan sekaligus menentang Ali bin Abi Thalib dan  Mu’awiah bin Abi Sofian sekaligus. Kelompok ini dalam sejarah dikenal dengan kelompok Khawarij yang dipelopori olah ‘Atab bin A’war dan Urwa bin Jabir.[3]  Dari sini, mulai muncul dan berkembang aliran-aliran pemikiran  kalam (teologi) yang dikenal sampai sekarang:

Selengkapnya silahkan download 

 

Bahan Ajar Modul V : Metodologi Studi Islam

Secara garis besar, pembahasan pada bagian ini lebih difokuskan pada pertama, penelitian agama dan kedua, model-model penelitian agama. Kemudian dalam konteks ini, pembahasan penelitian agama diisi dengan penjelasan tentang keudukan penelitian agama dalam konteks penelitian pada umumnya, kemudian dilakukan elaborasi mengenai penelitian agama, penelitian keagamaan dan konstruksi teori penelitian keagama. Kemudian pada bagian akhir akan dibahas beberapa model penelitian keagamaan.

1. Penelitian dan Penelitian Agama

a.    Hasrat Ingin Tahu Manusia, Mencari kebenaran dan Penelitian

Hasrat Ingin Tahu Manusia, bahwa manusia senantiasa berusaha mencari kesempurnaan dan kebenaran, karena didorong oleh rasa ingin tahunya yang selalu ada dan tidak pernah padam. Didorong oleh rasa ingin tahu, maka manusia selalu melakukan kajian-kajian dan penelitian, dengan melalui kajian dan penelitian banyak rahasia tersingkap. Jadi, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya merupakan kumpulan pengalaman dan pengetahuan sejumlah orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang terstruktur, teratut dan kebenarannya sudah diuji.

Keinginan manusia untuk mengetahui lebih banyak dan lebih dalam lagi menjadi ciri kehidupan akademik pada manusia, maka manusia belajar dari kenyataan tentang adanya kenyataan-kenyataan yang selalu sama [statis] dan selalu dalam keadaan berubah [dinamis] dan karena itu manusia menjadi tidak puas dengan kenyataan-kenyataan yang diamatinya, sebagai kemungkinan-kemung kinan.[1]

Perlu diketahui bahwa ilmu pengetahuan mempunyai nilai umum yang dapat dipergunakan untuk menghadapi persoalan hidup sehari-hari dan banyak persoalan atau masalah yang belum juga terpecahkan, sementara persoalan-persoalan baru selalu muncul. Kajian dan penelitian selalu dan terus dilakukan selama manusia masih berada di alam bumi ini, karena persoalan atau masalah kehidupan selalu muncul dan memerlukan pemecahan. Tetapi, pada kenyataannya manusia selalu tidak puas dengan kenyataan-kenyataan yang diamatinya, sebagai kemungkinan-kemungkinan. Maka manusia melakukan transendensi terhadap kenyataan dan menjadikannya kemungkinan-kemungkinan. “Kant, menyebutkan “ein der bilder bedurf-tiger verstand”, kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu di belakang kenyataan itu”.[2]

Keingin tahuan manusia, belum menjadi sikap atau pengamatan ilmiah, karena keinginan tahu ini dapat membawa kita kepada pengetahuan, belum  kepada ilmu. Sebab ilmu menuntut berbagai persyaratan lain, yang timbul oleh pengamatan awal berupara pengaturan-pengaturan dan pengaturan itu membawa kita kepada penghimpunan dan penemuan hubungan-hubungan yang ada antara realitas yang kita amati. Hubungan-hubungan itu berbagai macam, dapat berdasar fungsional, kesamaan material, warna, bentuk dan lain-lain. Kemudian azas pengaturan dinyatakan sebagai batasan yang menentukan tempat fakta-fakta dalam satu bagian dan inilah yang disebut dengan konsistensi azas pengaturan.[3]

Selengkapnya silakan download 

Bahan Ajar Modul IV : Metodologi Studi Islam

Untuk penelitian agama yang sasarannya adalah agama sebagai doktrin. Agama sebagai teologi, tidak terbatas hanya sekedar menerangkan  hubungan antara manusia dengan Tuhan (Transendental) saja, tetapi tidak terelakan  adalah melibatkan kesadaran berkelompok (sosiologis), kesadaran pencarain asal-usul agama (antropologi), pemenuhan kebutuhan untuk membentuk kepribadian yang kuat dan ketenangan jiwa (psikologis) bahkan ajaran agama tertentu dapat diteliti sejauh mana keterkaitan ajaran etikanya dengan corak pandangan hidup yang memberi dorongan yang kuat untuk memperoleh derajat kesejahteraan hidup yang optimal (ekonomi).

Apabila kita memandangan agama sebagai doktrin yang sacral, suci dan tabuh, maka tertutup untuk kajian-kajian atau penelitian. Tetapi, apabila kajian-kajian diarahkan pada elemen-elemen agama, maka terbuka pintu untuk melakukan penelitian dan bahkan metodologi penelitian sudah pernah dirintis, yaitu ilmu ushul fiqh sebagai metode untuk mengistimbatkan hukum dalam agama Islam, dan ilmu musthalah hadis sebagai metode untuk menilai akurasi dan kekuatan sebab-sebab Nabi [hadis], merupakan bukti adanya keinginan untuk mengembangkan metodologi penelitian.

Al-Qur’an bukan semata-mata teks puji-pujian ataupun tuntutan kesalehan pribadi dan sama halnya, karier kerasulan Nabi Muhammad juga diarahkan kepada perbaikan moral manusia dalam artian yang konkrit dan komunal, bukan hanya sekedar kepada hal-hal yang bersifat pribadi dan metafisik saja. Dengan sendirinya mendorong para ahli hukum dan intelektual muslim untuk memandang al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber yang mampu menjawab semua persoalan.[1]

Selengkapnya silahkan download

 

Bahan Ajar Modul III : Metodologi Studi Islam

Berbicara tentang penelitian agama dianggap tabu, sacral dan  orang akan berkata kenapa agama yang sudah begitu mapan dan sebagai wahyu Allah, kenapa harus diteliti. Sikap serupa juga pernah terjadi di dunia Barat. Dahulu orang atau bangsa Eropa juga menolak anggapan adanya kemungkinan meneliti agama, sebab antara ilmu dan nilai (value), antara ilmu dan agama (kepercayaan) tidak dapat disinkronkan. Maka kita akan melihat agama sebagai gejala budaya dan sosial, Islam sebagai wahyu dan produk sejarah.

a. Agama sebagai Gejala Budaya dan Sosial

Timbul pertanyaan, dapatkah agama didekati secara kualitatif atau kuantitatif? Jawabannya, dapat. Artinya agama dapat didekati secara kualitatif dan kuantitatif sekaligus, atau salah satunya, tergantung unsure-unsur agama yang diteliti itu dilihat sebagai gejala apa.

Lima bentuk gejala agama yang diperhatikan, apabila kita hendak mempelajari atau meneliti suatu agama, yaitu: (1) Scripture, naskah-naskah atau sumber ajaran dan simbol-simbol agama. (2) Para penganut, pimpinan, pemuka agama, menyangkut dengan sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya. (3) Ritus-ritus, lembaga-lembaga, ibadat-ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris. (4) Alat-alat, seperti masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya. (5) Organisasi-organisasi kegamaan, tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Gejera Katholik, Protestan, Syi’ah, Sunni dan sebagainya.[1]

 

Selengkapnya silahkan download

Bahan Ajar Modul II : Metodologi Studi Islam

Studi Islam, adalah pengkajian tentang ilmu-ilmu ke-Islaman. Ilmu-ilmu Islam, meliputi aspek “kepercayaan” normative-dogmatif yang bersumber dari wahyu dan aspek “perilaku manusia” yang lahir oleh dorongan kepercayaan, kemudian menjadi kenyataan-kenyataan emperik[1]   Maka, yang dimaksud dengan ilmu-ilmu ke-Islam-an adalah pengkajian yang tidak hanya kepada aspek-aspek normative, dogmatif,  teologis saja, tetapi pengkajian menyangkut dengan aspek sosiologis.

Pengkajian “agama”, hendaknya dibedakan  dari “studi Islam”[2]. Pengkajian agama agaknya menjadi sasaran bagi “pendidikan keimanan” terhadap sesuatu agama. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengkajian “agama Islam” adalah upaya atau usaha pendidikan keimanan dalam Islam bagi kaum muslimin dan pengkajian agama Islam merupakan salah satu dari kegiatan ilmu Islam atau studi Islam. Sedangkan, studi Islam adalah pengkajian terhadap semua ilmu yang diperlukan oleh seorang muslim dalam kehidupan untuk kebahagian dan keselamatan duniawi dan ukhrawi.

selengkapnya silakan download