Bahan Ajar Modul V : Metodologi Studi Islam

Secara garis besar, pembahasan pada bagian ini lebih difokuskan pada pertama, penelitian agama dan kedua, model-model penelitian agama. Kemudian dalam konteks ini, pembahasan penelitian agama diisi dengan penjelasan tentang keudukan penelitian agama dalam konteks penelitian pada umumnya, kemudian dilakukan elaborasi mengenai penelitian agama, penelitian keagamaan dan konstruksi teori penelitian keagama. Kemudian pada bagian akhir akan dibahas beberapa model penelitian keagamaan.

1. Penelitian dan Penelitian Agama

a.    Hasrat Ingin Tahu Manusia, Mencari kebenaran dan Penelitian

Hasrat Ingin Tahu Manusia, bahwa manusia senantiasa berusaha mencari kesempurnaan dan kebenaran, karena didorong oleh rasa ingin tahunya yang selalu ada dan tidak pernah padam. Didorong oleh rasa ingin tahu, maka manusia selalu melakukan kajian-kajian dan penelitian, dengan melalui kajian dan penelitian banyak rahasia tersingkap. Jadi, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya merupakan kumpulan pengalaman dan pengetahuan sejumlah orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang terstruktur, teratut dan kebenarannya sudah diuji.

Keinginan manusia untuk mengetahui lebih banyak dan lebih dalam lagi menjadi ciri kehidupan akademik pada manusia, maka manusia belajar dari kenyataan tentang adanya kenyataan-kenyataan yang selalu sama [statis] dan selalu dalam keadaan berubah [dinamis] dan karena itu manusia menjadi tidak puas dengan kenyataan-kenyataan yang diamatinya, sebagai kemungkinan-kemung kinan.[1]

Perlu diketahui bahwa ilmu pengetahuan mempunyai nilai umum yang dapat dipergunakan untuk menghadapi persoalan hidup sehari-hari dan banyak persoalan atau masalah yang belum juga terpecahkan, sementara persoalan-persoalan baru selalu muncul. Kajian dan penelitian selalu dan terus dilakukan selama manusia masih berada di alam bumi ini, karena persoalan atau masalah kehidupan selalu muncul dan memerlukan pemecahan. Tetapi, pada kenyataannya manusia selalu tidak puas dengan kenyataan-kenyataan yang diamatinya, sebagai kemungkinan-kemungkinan. Maka manusia melakukan transendensi terhadap kenyataan dan menjadikannya kemungkinan-kemungkinan. “Kant, menyebutkan “ein der bilder bedurf-tiger verstand”, kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu di belakang kenyataan itu”.[2]

Keingin tahuan manusia, belum menjadi sikap atau pengamatan ilmiah, karena keinginan tahu ini dapat membawa kita kepada pengetahuan, belum  kepada ilmu. Sebab ilmu menuntut berbagai persyaratan lain, yang timbul oleh pengamatan awal berupara pengaturan-pengaturan dan pengaturan itu membawa kita kepada penghimpunan dan penemuan hubungan-hubungan yang ada antara realitas yang kita amati. Hubungan-hubungan itu berbagai macam, dapat berdasar fungsional, kesamaan material, warna, bentuk dan lain-lain. Kemudian azas pengaturan dinyatakan sebagai batasan yang menentukan tempat fakta-fakta dalam satu bagian dan inilah yang disebut dengan konsistensi azas pengaturan.[3]

Selengkapnya silakan download 

Bahan Ajar Modul IV : Metodologi Studi Islam

Untuk penelitian agama yang sasarannya adalah agama sebagai doktrin. Agama sebagai teologi, tidak terbatas hanya sekedar menerangkan  hubungan antara manusia dengan Tuhan (Transendental) saja, tetapi tidak terelakan  adalah melibatkan kesadaran berkelompok (sosiologis), kesadaran pencarain asal-usul agama (antropologi), pemenuhan kebutuhan untuk membentuk kepribadian yang kuat dan ketenangan jiwa (psikologis) bahkan ajaran agama tertentu dapat diteliti sejauh mana keterkaitan ajaran etikanya dengan corak pandangan hidup yang memberi dorongan yang kuat untuk memperoleh derajat kesejahteraan hidup yang optimal (ekonomi).

Apabila kita memandangan agama sebagai doktrin yang sacral, suci dan tabuh, maka tertutup untuk kajian-kajian atau penelitian. Tetapi, apabila kajian-kajian diarahkan pada elemen-elemen agama, maka terbuka pintu untuk melakukan penelitian dan bahkan metodologi penelitian sudah pernah dirintis, yaitu ilmu ushul fiqh sebagai metode untuk mengistimbatkan hukum dalam agama Islam, dan ilmu musthalah hadis sebagai metode untuk menilai akurasi dan kekuatan sebab-sebab Nabi [hadis], merupakan bukti adanya keinginan untuk mengembangkan metodologi penelitian.

Al-Qur’an bukan semata-mata teks puji-pujian ataupun tuntutan kesalehan pribadi dan sama halnya, karier kerasulan Nabi Muhammad juga diarahkan kepada perbaikan moral manusia dalam artian yang konkrit dan komunal, bukan hanya sekedar kepada hal-hal yang bersifat pribadi dan metafisik saja. Dengan sendirinya mendorong para ahli hukum dan intelektual muslim untuk memandang al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber yang mampu menjawab semua persoalan.[1]

Selengkapnya silahkan download

 

Bahan Ajar Modul III : Metodologi Studi Islam

Berbicara tentang penelitian agama dianggap tabu, sacral dan  orang akan berkata kenapa agama yang sudah begitu mapan dan sebagai wahyu Allah, kenapa harus diteliti. Sikap serupa juga pernah terjadi di dunia Barat. Dahulu orang atau bangsa Eropa juga menolak anggapan adanya kemungkinan meneliti agama, sebab antara ilmu dan nilai (value), antara ilmu dan agama (kepercayaan) tidak dapat disinkronkan. Maka kita akan melihat agama sebagai gejala budaya dan sosial, Islam sebagai wahyu dan produk sejarah.

a. Agama sebagai Gejala Budaya dan Sosial

Timbul pertanyaan, dapatkah agama didekati secara kualitatif atau kuantitatif? Jawabannya, dapat. Artinya agama dapat didekati secara kualitatif dan kuantitatif sekaligus, atau salah satunya, tergantung unsure-unsur agama yang diteliti itu dilihat sebagai gejala apa.

Lima bentuk gejala agama yang diperhatikan, apabila kita hendak mempelajari atau meneliti suatu agama, yaitu: (1) Scripture, naskah-naskah atau sumber ajaran dan simbol-simbol agama. (2) Para penganut, pimpinan, pemuka agama, menyangkut dengan sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya. (3) Ritus-ritus, lembaga-lembaga, ibadat-ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris. (4) Alat-alat, seperti masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya. (5) Organisasi-organisasi kegamaan, tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Gejera Katholik, Protestan, Syi’ah, Sunni dan sebagainya.[1]

 

Selengkapnya silahkan download

Bahan Ajar Modul II : Metodologi Studi Islam

Studi Islam, adalah pengkajian tentang ilmu-ilmu ke-Islaman. Ilmu-ilmu Islam, meliputi aspek “kepercayaan” normative-dogmatif yang bersumber dari wahyu dan aspek “perilaku manusia” yang lahir oleh dorongan kepercayaan, kemudian menjadi kenyataan-kenyataan emperik[1]   Maka, yang dimaksud dengan ilmu-ilmu ke-Islam-an adalah pengkajian yang tidak hanya kepada aspek-aspek normative, dogmatif,  teologis saja, tetapi pengkajian menyangkut dengan aspek sosiologis.

Pengkajian “agama”, hendaknya dibedakan  dari “studi Islam”[2]. Pengkajian agama agaknya menjadi sasaran bagi “pendidikan keimanan” terhadap sesuatu agama. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengkajian “agama Islam” adalah upaya atau usaha pendidikan keimanan dalam Islam bagi kaum muslimin dan pengkajian agama Islam merupakan salah satu dari kegiatan ilmu Islam atau studi Islam. Sedangkan, studi Islam adalah pengkajian terhadap semua ilmu yang diperlukan oleh seorang muslim dalam kehidupan untuk kebahagian dan keselamatan duniawi dan ukhrawi.

selengkapnya silakan download

 

BAHAN AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH DASAR LUAR BIASA TUNA GRAHITA RINGAN

Penelitian ini berlatar belakang adanya permasalahan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Tuna Grahita Ringan (C) di SDLB Bhakti Kencana Berbah Sleman dan SDLB secara umum. Peneliti berasumsi bahwa kurikulum yang dilaksanakan dalam pembelajaran PAI di SD Tuna Grahita C tidak sesuai dengan difabelitas yang disandang oleh siswa. Hal ini terlihat dari rumusan standar kompetensi untuk SD tuna Grahita yang tidak berbeda dengan standar kompetensi untuk anak normal.  Pembedaan antara siswa normal dan Tuna Grahita C adalah sangat jelas, yaitu perbedaan “kemampuan IQ”.

Dari latar belakang permasalahan tersebut, penelitian ini mengambil sebagian aspeknya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, yaitu dengan menggunakan strategi optimalisasi bahan ajar sebagai pecapaian standar kompetensi PAI SD Kelas 1 untuk anak tuna grahita ringan. Rumusan masalah yang dijawab dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Model Bahan Ajar PAI bagi anak Sekolah Dasar Luar Biasa Tunagrahita ringan (C) Kelas I yang Efektif?”

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development). Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa  Modul PAI untuk kelas 1 SD Tuna Ghrahita yang layak dipakai dalam pembelajaran  adalah bahan ajar yang berprinsip; (a) dari yang mudah ke yang sulit, dari yang kongkrit ke abstrak, dari yang sederhana ke yang komplek, (b) sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa; (c) menekankan keterampilan fungsional dengan kondisinya; (d) menarik dan membantu penyajian. Desain modul yang dikembangkan berisi langkah-langkah yang lebih lengkap dari yang sudah ada, sehingga dapat mempermudah siswa dalam pembelajaran.

Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan, adalah modul yang: (1) Mempunyai Kelayakan Isi dengan kategori Baik; (2)  Dari aspek bahasa dan gambar juga menunjukkan hasil Baik; (3) Dilihat dari aspek penyajian menunjukkan hasil Baik; (4) Dari aspek penyajian termasuk kategori “Sangat baik“ karena memiliki keseimbangan teks dengan gambar, ukuran gambar, penggunaan huruf, sampul modul yang menarik, sehingga mempermudah siswa memahami materi dalam modul.

Selengkapnya silahkan download 

PENGARUH KEBIJAKAN WAJIB SALAT BERJAMAAH TERHADAP ETOS KERJA PEGAWAI DAERAH KABUPATEN ROKAN HULU

Sejak tahun 1999 Pemerintah Pusat telah membuat kebijakan tentang Otonomi Daerah dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 22/1999 tentang Pemerintah Daerah.Undang–undang ini telah mengubah peta politik dalam penataan kewenangan dan kewajiban pemerintah.Pemerintah daerah yang semula dikendalikan pemerintah pusat menjadi otonomi daerah.Menurut undang-undang tersebut pihak pemerintah daerah memiliki kewenangan yang lebih luas atau lebih besar dalam mengatur pemerintahannya sendiri.

Kewenangan yang lebih luas tersebut, menuntut pemerintah daerah untuk lebih giat dan lebih peka dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam pembangunan daerah. Para pegawai pemerintah daerah dituntut untuk memiliki etos kerja yang tinggi agar semua pekerjaan yang berhubungan dengan pembangunan daerah dan pelayanan terhadap masyarakat dapat dilaksanakan dengan baik.

Etos kerja merupakan cerminan dari sikap hidup yang mendasar dalam menghadapi dunia kerja. Pembentukan dan penguatan etos kerja tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas pendidikan atau prestasi yang berhubungan dengan profesi dan dunia kerja, tetapi juga ditentukan oleh faktor-faktor lain seperti suasana batin dan semangat hidup yang bersumber pada keyakinan atau iman.1

Selengkapnya silahkan download

Pandangan Azyumardi azra tentang demokratisasi pendidikan

Demokratisasi pendidikan merupakan pendidikan hati nurani, artinya pendidikan yang lebih menghargai potensi manusia dikatakan lebih humanis, beradab dan sesuai dengan cita-cita masyarakat madani. Melalui demokratisasi pendidikan akan terjadi proses kesetaraan antara pendidikan dan peserta didik di dalam proses belajar mengajar

Download Pandangan Azyumardi azra tentang demokratisasi pendidikan

PENGENALAN ACTIVE LEARNING PENDEKATAN MENGAJAR

Kembangkan Metode dan Strategi Pembelajaran Yang Menyenangkan Dan Memberdayakan Peserta Didik Kembangkan Metode Pembelajaran Dengan Latihan Dan Uji Coba, Jangan Takut Salah

MATERI PENGENALAN ACTIVE LEARNINGPENDEKATAN MENGAJAR
(PRA JABATAN CALON DOSEN TETAP UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 5 JUNI 2010)

DOWNLOAD MATERI PRAJABATAN PRESENTASI PENGENALAN ACTIVE LEARNING PENDEKATAN MENGAJAR

PERAN DOKTER SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN DI MASYARAKAT

Dalam firman Allah SWT dikatakan bahwa setiap makhluk harus mentaati Allah, Rasul, dan Perpanjangan tangan Allah di bumi yaitu pemimpin.

“Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan para ulul amri diantara kalian” [QS An-Nisaa’ : 59]

Kepemimpinan mengacu pada suatu proses untuk menggerakkan sekumpulan manusia menuju ke suatu tujuan yang telah ditetapkan dengan mendorong mereka bertindak dengan cara yang tidak memaksa. Kepemimpinan yang baik menggerakkan manusia ke arah jangka panjang, yang betul-betul merupakan kepentingan mereka yang terbaik. Arah tersebut bisa bersifat umum, seperti penyebaran Islam ke seluruh dunia, atau khusus seperti mengadakan konferensi mengenai isu tertentu. Walau bagaimanapun, cara dan hasilnya haruslah memenuhi kepentingan terbaik orang-orang yang terlibat dalam pengertian jangka panjang yang nyata.

DOWNLOAD PERAN DOKTER SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN DI MASYARAKAT

MASA ORIENTASI SISWA DAN MASA PERKENALAN MAHASISWA MEWUJUDKAN PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN

Stop kekerasan dalam dunia pendidikan, karena tidak sesuai dengan visi dan misi pendidikan. Untuk melaksanakan pendidikan tanpa kekerasan diperlukan penanaman nilai-nilai, perilaku prasosial, mendisiplinkan peserta didik dengan cara yang positif, mengajari cara-cara menyelesaikan masalah konflik tanpa kekerasan dengan diikuti pedoman yang jelas, mengikat bagi guru dan peserta didik. Harus dilakukan kontrol terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan siswa dan mahasiswa yang berpotensi kekerasan baik fisik maupun verbal. Kegiatan siswa maupun mahasiswa yang berindikasi, berpotensi kekerasan, harus dihentikan dan diberikan sanksi yang tegas.
Kata kunci: ”Stop kekerasan dalam dunia pendidikan”

MASA ORIENTASI SISWA DAN MASA PERKENALAN MAHASISWA PENDIDIKAN DAN KEKERASAN

« Halaman Sebelumnya Halaman Berikutnya »