MENGEMBANGKAN MADRASAH MENJADI PENDIDIKAN ALTERNATIF
Di Indonesia kita kenal, berbagai bentuk dan jenis pendidikan Islam, seperti Pondok Pesantren, Madrasah, Sekolah Umum bercirikan Islam, Perguruan Tinggi Islam dan jenis-jenis pendidikan Islam luar sekolah, seperti Taman Pendidikan al-Qur’an [TPA], Pesantrenisasi dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya merupakan aset dan salah satu dari konfigurasi sistem pendidikan nasional Indonesia. Melalui keberadaannya, diharapkan dapat membangun dan memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal.
Namun kenyataannya masih belum demikian, bahwa pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaiang dalam membangun umat yang besar ini. Memang terasa janggal atau bahkan mungkin juga lucu, karena dalam suatu komunitas masyarakat muslim yang besar pendidikan Islam seperti Madrasah kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. Mungkin ada benarnya juga, pepatah yang mengakatakan bahwa “ayam mati kelaparan di lumbung padi”. Ini artinya, kenyataannya pendidikan Islam belum mendapat kesempatan yang luas dan seimbang dengan umatnya yang besar di bumi Indonesia ini.
Sekalipun demikian, dalam kurun waktu belakangan ini, terlihat pendidikan Islam model madrasah mulai mengalami kemajuan. Hal ini terbukti dengan semakin bertambah jumlah [kuantitatif] dan masuknya pendidikan madrasah ke dalam mainstream pendidikan nasional. Misalnya saja, madrasah sekarang ini, sejak ibtidaiyah sampai aliyah, sejak tahun 1975 sudah mendapat pengakuan setara dengan sekolah umum setingkat dan sudah mengunnakan kurikulum nasional sesuai dengan standar sekolah umum.
Sejak saat itu, madrasah tidak lagi sebagai pendidikan khusus mengaji atau mendalami masalah-masalah keagamaan sebagaimana dulunya. Madrasah bahkan sudah membuka jurusan IPA, sosial, keterampilan dan lain-lain [Azyumardi Azra,http://islamlib.com/WAWANCARA/azra3.html,6/27/2003]. Selain itu, munculnya beberapa jenis serta model pendidikan yang ditawarkan, dapat dilihat sebagau pergulatan lembaga-lembaga model madrasah.
Namun tantangan yang dihadapi madrasah masih kompleks dan berat, karena dunia madrasah juga dituntut untuk memberikan konstribusi bagi kemoderenan dan tendensi globalisasi. Dengan begitu, maka mau tidak mau pendidikan Islam dituntut menyusun langkah-langkah perubahan yang mendasar, termasuk melakukan versifikasi dan diferensiasi keilmuan dan atau mencari pendidikan alternatif yang inovatif.
Kondisi ini menuntut madrasah untuk bekerja serius dalam mengembangkan organisasi, manajemen, kurikulum dan system pembelajarannya. A.Mukti Ali menyatakan, bahwa kelemahan-kelemahan pendidikan model madrasah di Indonesia dewasa ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor penguasaan system, metode, bahasa sebagai alat, ketajaman interpretasi [insinght], kelembagaan [oraganisasi], manajemen, dan penguasaan ilmu dan teknologi.
Download Materi Lengkap MENGEMBANGKAN MADRASAH MENJADI PENDIDIKAN ALTERNATIF
Comments
Got something to say?
