KETERAMPILAN MEMIMPIN
KEPEMIMPINAN :
- Proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan kelompok [ Koontz & O'donnel]• Kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan penuh semangat [Davis, 1977]
- • Mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka [Wexley & Yuki, 1977]
- • Pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan [Fiedler, 1967].
- Kepemipinan IslamSuatu proses atau kemampuan mempengaruhi orang lain, mengarahkan dan memotivasi tingkah laku orang lain, usaha kerjasama sesuai dengan qur’an dan hadis untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.
Download File Lengkap KETERAMPILAN MEMIMPIN
REKONSTRUKSI TAUHID, SOSIAL, DAN ETOS KERJA DARI PERISTIWA NABI IBRAHIM A.S
Keteladanan Nabi Ibrahim a.s, terasa sangat penting dan bermakna bagi umat manusia. Apabila memperhatikan di sekeliling kita, telah terjadi persoalan-persoalan hidup yang sebenarnya hanya kecil-kecilan dan tidak terlalu mendasar. Bahkan acapkali sangat bersifat kenak-kanakan yang didasarkan pada pemikiran2yang amat kerdil. Semua pesoalan tersebut “tidak dilandasi” pada “keimanan” dan “katqawaan”, tetapi pada “egoisme”, “kerakusan” dan “nafsu kebinatangan”. Contoh: seseorang membunuh isteri karena alasan cemburu, membunuh orang tua dan anak karena alasan yang sangat sederhana, memperkosa anak, memperkosa cucu sendiri dan membunuh karena hafsu kebinatangannya, perampokan dan pembunuhan. Mengedarkan narkoba karena alasan untuk “sepring nasi”, tetapi akibatnya mengorbankan generasi bangsa ini. Perilaku koropsi, pembobolan Bank dan sampai pada dana haji yang hanya disebabkan oleh manajemen “amanah” yang disalahgunakan dan berbagai persoalan yang kita amati dan terjadi.
Download Materi Lengkap REKONSTRUKSI TAUHID, SOSIAL, DAN ETOS KERJA DARI PERISTIWA NABI IBRAHIM A.S
KELUARGA SAKINAH
1. Fungsi Keluarga
a. Ciri khas keluarga
Keluarga dapat dilihat dari tiga aspek yang mendasarinya, yaitu: [1] persatuan hidup yang pasti dari orang tua sebagai suami isteri, [2] sebagai persekutuan kodrati bagi anak dalam pertumbuhan, [3] persekutuan kodrati yang abadi bagi anak dengan orang tua.
b. Keluarga adalah satu unsur dari lingkungan [catur pusat] pendidikan, yaitu : keluarga, sekolah, masyarakat, dan tempat ibadah [masjid]. Keluarga wajib membimbing agar anaknya menjadi pribadi-pribadi muslim yang bahagia dalam kehidupan di dunia dan akirat dan terlepas dari segala penderitaan hidup:
Artinya: Jagalah dirimu serta keluargamu dari siksaan api neraka” [Q.S. at-Tahrim:6]
2. Upaya Membentuk Keluarga Sakinah
Dalam lingkungan keluarga muslim, orang tua [bapak dan ibu] harus berusaha untuk menciptakan dan menanamkan kepribadian muslim dengan:
a. Tanamkan dan mendirik anak untuk bertaqwa kepada Allah, sebagaimana contoh Luqman al-Hakim dalam mendirik anaknya:
1 Makalah disampaikan pada acara Pelatihan Kader Motivator Keluarga Sakinah dan Pelatihan Kepemimpinan Islam di Kecamatan Semin, pada Kamis, 7 September 200.
2 Dosen tetap Fakultas Ilmu Agama Islam Jurusan Tarbiyah Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
Artinya: “Dan ingatlah takkala Luqman berkata kepada anaknya, sedang ia menasihati dia, hai anakku janganlah engkau sekutukan sesuatu dengan Allah, karena sesungguhnya syirik itu suatu penganiyaan diri yang besar” [Luqman:13]
Download File Lengkapnya KELUARGA SAKINAH
HADITS PADA MASA NABI : Kajian Hadits dan Perbedaannya dengan as-Sunnah,al-Khabar, Atsar
Hadits Nabi telah ada sejak awal perkembangan Islam adalah sebuah kenyataan yang tak dapat diragukan lagi. Hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam, di samping al-Qur’an. “Hadits atau disebut juga dengan Sunnah, adalah segala sesuatu yang bersumber atau didasarkan kepada Nabi SAW., baik berupa perketaan, perbuatan, atau taqrir-nya. Hadits, sebagai sumber ajaran Islam setelah al-Qur’an, sejarah perjalanan hadits tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan Islam itu sendiri. Akan tetepi, dalam beberapa hal terdapat ciri-ciri tertentu yang spesipik, sehingga dalam mempelajarinya diperlukan pendekatan khusus”.
Pada zaman Nabi, hadits diterima dengan mengandalkan hafalan para sahabat Nabi, dan hanya sebagian hadits yang ditulis oleh para sahabat Nabi. Hal ini disebabkan, “Nabi pernah melarang para sahabat untuk menulis hadits beliau. Dalam pada itu, Nabi juga pernah menyuruh para sahabat untuk menulis hadits beliau. ….. Dalam sejarah, pada zaman Nabi telah terjadi penulisan hadits. misalnya berupa surat-surat Nabi tentang ajakan memeluk Islam kepada sejumlah pejabat dan kepala negara yang belum memeluk Islam. Sejumlah sahabat Nabi telah menulis hadits Nabi, misalnya Abdullah bin ‘Amr bin al-’As (w.65 H/685 M), Abdullah bin ‘Abbas (w.68 H/687 M), ‘Ali bin Abi Thalib (w. 40 H/661 M), Sumrah (Samurah) bin Jundab (w. 60 H), Jabir bin Abdullah (w. 78 H/697 M), dan Abdullah bin Abi Aufa’ (w.86 H). Walaupun demikian tidaklah berarti bahwa seluruh hadits telah terhimpun dalam catatan para sahabat tersebut.
Menurut H.Said Agil Husain al-Munawar, penulisan hadits bersifat dan untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, hadits-hadits yang ada pada para sahabat, yang kemudian diterima oleh para tabi’in memungkinkan ditemukan adanya redaksi yang berbada-beda. Sebab, ada yang meriwayatkannya sesuai atau sama benar dengan lafazh yang diterima dari Nabi (yang disebut dengan periwayatan bi al-lafzhi), dan ada yang hanya sesuai makna atau maksudnya saja (yang disebut dengan periwayatan bi al-ma’na), sedang redaksinya tidak sama. Lebih lanjut H.Said Agil Husain al-Munawar, mengatakan bahwa di antara para sahabat yang sangat ketat berpegang kepada periwayatan bi al-lafzhi, ialah Abdullah bin Umar. Menurutnya, tidak boleh ada satu kata atau huruf yang dikurangi atau ditambah dari yang disabdakan Rasul SAW.Dengan demikian, hadits Nabi yang berkembang pada zaman Nabi (sumber aslinya), lebih banyak berlangsung secara hafalan dari pada secara tulisan. Penyebabnya adalah Nabi sendiri melarang para sahabat untuk menulis hadits-nya, dan menurut penulis karakter orang-orang Arab sangat kuat hafalannya dan suka menghafal, dan ada kehawatiran bercampur dengan al-Qur’an. Dengan kenyataan ini, sangat logis sekali bahwa tidak seluruh hadits Nabi terdokumentasi pada zaman Nabi secara keseluruhan
Download Materi Lengkap HADITS PADA MASA NABI : Kajian Hadits dan Perbedaannya dengan as-Sunnah,al-Khabar, Atsar
METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN BERORIENTASI PADA PEMBERDAYAAN PESERTA DIDIK
Abstrak : Gunakan metode dan strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik, sehingga mereka dapat melakukan dan menemukan sendiri. Kondisikan suasana kelas, sehingga peserta didik dapat mengkiritisi, memahami, mengemukakan pendapat dan pandangannya, baik secara perorangan maupun kelompok terhadap materi atau topik bahasan yang dibacarakan. Ciptakan suasana kelas yang hidup, menyenangkan, harmonis, tidak tertekan, sehingga dapat menyemangati peserta didik untuk senang belajar.
Download Materi Lengkap METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN BERORIENTASI PADA PEMBERDAYAAN PESERTA DIDIK
MENGEMBANGKAN MADRASAH MENJADI PENDIDIKAN ALTERNATIF
Di Indonesia kita kenal, berbagai bentuk dan jenis pendidikan Islam, seperti Pondok Pesantren, Madrasah, Sekolah Umum bercirikan Islam, Perguruan Tinggi Islam dan jenis-jenis pendidikan Islam luar sekolah, seperti Taman Pendidikan al-Qur’an [TPA], Pesantrenisasi dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya merupakan aset dan salah satu dari konfigurasi sistem pendidikan nasional Indonesia. Melalui keberadaannya, diharapkan dapat membangun dan memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal.
Namun kenyataannya masih belum demikian, bahwa pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaiang dalam membangun umat yang besar ini. Memang terasa janggal atau bahkan mungkin juga lucu, karena dalam suatu komunitas masyarakat muslim yang besar pendidikan Islam seperti Madrasah kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. Mungkin ada benarnya juga, pepatah yang mengakatakan bahwa “ayam mati kelaparan di lumbung padi”. Ini artinya, kenyataannya pendidikan Islam belum mendapat kesempatan yang luas dan seimbang dengan umatnya yang besar di bumi Indonesia ini.
Sekalipun demikian, dalam kurun waktu belakangan ini, terlihat pendidikan Islam model madrasah mulai mengalami kemajuan. Hal ini terbukti dengan semakin bertambah jumlah [kuantitatif] dan masuknya pendidikan madrasah ke dalam mainstream pendidikan nasional. Misalnya saja, madrasah sekarang ini, sejak ibtidaiyah sampai aliyah, sejak tahun 1975 sudah mendapat pengakuan setara dengan sekolah umum setingkat dan sudah mengunnakan kurikulum nasional sesuai dengan standar sekolah umum.
Sejak saat itu, madrasah tidak lagi sebagai pendidikan khusus mengaji atau mendalami masalah-masalah keagamaan sebagaimana dulunya. Madrasah bahkan sudah membuka jurusan IPA, sosial, keterampilan dan lain-lain [Azyumardi Azra,http://islamlib.com/WAWANCARA/azra3.html,6/27/2003]. Selain itu, munculnya beberapa jenis serta model pendidikan yang ditawarkan, dapat dilihat sebagau pergulatan lembaga-lembaga model madrasah.
Namun tantangan yang dihadapi madrasah masih kompleks dan berat, karena dunia madrasah juga dituntut untuk memberikan konstribusi bagi kemoderenan dan tendensi globalisasi. Dengan begitu, maka mau tidak mau pendidikan Islam dituntut menyusun langkah-langkah perubahan yang mendasar, termasuk melakukan versifikasi dan diferensiasi keilmuan dan atau mencari pendidikan alternatif yang inovatif.
Kondisi ini menuntut madrasah untuk bekerja serius dalam mengembangkan organisasi, manajemen, kurikulum dan system pembelajarannya. A.Mukti Ali menyatakan, bahwa kelemahan-kelemahan pendidikan model madrasah di Indonesia dewasa ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor penguasaan system, metode, bahasa sebagai alat, ketajaman interpretasi [insinght], kelembagaan [oraganisasi], manajemen, dan penguasaan ilmu dan teknologi.