ANTARA SAINS DAN ORTODOKSI ISLAM
A. PENDAHULUAN Seyyed Hossein Nasr adalah seorang tokoh pemikir yang unik di dunia Islam. Keunikan pribadi dan pemikiran Seyyed Hossein Nasr karena lahir dari tradisi Sufi-Syi’ah yang dipadu dengan pemikiran Barat modern. Nasr lahir dari keluarga berlatar belakang Sufi terkenal di Persia yang memiliki afiliasi-afiliasi dengan tarekat-tarkat sufi di Persia. Persia, selama ini memang dikenal sebagai gudangnya ilmu, terutama khazanah ilmu-ilmu Islam klasik, semisal filsafat Islam klasik.
ILMU DAN AGAMA KAJIAN PEMIKIRAN HOLMES ROLSTON TENTANG AGAMA DAN PSIKOLOGI1
Perkembangan selama ini menunjukkan bahwa sains didominasi oleh aliran positivisme, sebuah aliran yang sangat menuhankan metode ilmiah dengan menempatkan asumsi-asumsi metafisis, aksiologis dan epistemologis. Menurut aliran ini, sains mempunyai reputasi tinggi untuk menentukan kebenaran, sains merupakan “dewa” dalam beragam tindakan [sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain]. Agama hanyalah merupakan hiasan belaka ketika tidak sesuai dengan sains, begitu kira-kira kata penganut aliran positivisme2.
SERTIFIKASI DAN PROFESIONALISME GURU
Profesionalisme guru, tentu harus terkait dan dibangun melelui penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas-tugas dan pekerjaannya sebagai guru. Kompetensi-kompetensi penting jabatan guru tersebut adalah : Kompotensi profesional, yaitu kompetensi pada bidang substansi atau bidang studi, kompetensi bidang pembelajaran, metode pembelajaran, sistem penilaian, pendidikan nilai dan bimbingan. Kompetensi sosial, yaitu kompetensi pada bidang hubungan dan pelayanan, pengabdian masyarakat. Kompetensi personal, yaitu kompetensi nilai yang dibangun melalui perilaku yang dilakukan guru, memiliki pribadi dan penampilan yang menarik, mengesankan serta guru yang gaul dan “funky” sehingga menjadi dambaan setiap orang, sosok guru yang menjadi tauladan bagi siswa dan panutan masyarakat. Penilaia terhadap profesi guru tidak hanya sekedar pada aspek kualitas, administrasi dan manajemen saja, tetapi masalah guru lebih luas dan kompleks, menyangkut kemampuan profesional, personal, sosial termasuk perilaku dan kurangnya penghargaan yang layak terhadap profesi guru. Penilaian harus dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan dan kompetensi pada bidang kependidikan.
Kata Kunci : Sumber daya kependidikan yang berkualitas dan profesional
Download Materi Lengkap SERTIFIKASI DAN PROFESIONALISME GURU
ASAL USUL DAN KARAKTER MADRASAH
Artikel yang ditulis oleh A.L.Tibawi didasarkan pada artikel DR. Goerge Makdisi yang berjudul “Lembaga-lembaga Pendidikan Muslim pada abad 12 di Bagdad”. Menurut Tibawi artikel George Makdisi merupakan suatu kajian yang teliti, lebih dari sebuah catatan mosaik terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam. Artikel George Makdisi melampaui sebuah tesis atau sudah bisa dikategori sebuah tesis. Artikel ini membahas tentang karakter pendidikan madrasah pada umumnya dan khususnya madrasah yang didirikan oleh “Nizam al-Mulk” di Bagdad. Tetapi pada artikel tersebut Tibawi mempertanyakan beberapa hal dalam artikel tersebut, karena tidak ada dokumen (tidak ada bukti) yang mendukung dan sangat meragukan, untuk itu Tibawi menolak ada alasan untuk menolak beberapa hal yang dikemukakan George Makdisi dalam artikelnya.
PENDIDIKAN ISLAM ALTERNATIF UPAYA MENGEMBANGKAN MADRASAH
Di Indonesia kita kenal, berbagai bentuk dan jenis pendidikan Islam, seperti Pondok Pesantren, Madrasah, Sekolah Umum bercirikan Islam, Perguruan Tinggi Islam dan jenis-jenis pendidikan Islam luar sekolah, seperti Taman Pendidikan al-Qur’an [TPA], Pesantrenisasi dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya merupakan aset dan salah satu dari konfigurasi sistem pendidikan nasional Indonesia. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sebagai khasanah pendidikan dan diharapkan dapat membangun dan memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal, tetapi pada kenyataan pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaiang dalam membangun umat yang besar ini.
PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI KERANGKA ACUAN PENATAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
Proses pendidikan yang berakar dari kebudayaan, berbeda dengan praksis pendidikan yang terjadi dewasa ini yang cenderung mengalienasikan proses pendidikan dari kebudayaan. Kita memerlukan suatu perubahan paradigma [paradigma shift] dari pendidikan untuk menghadapi proses globalisasi dan menata kembali kehidupan masyarakat Indonesia. Cita-cita era reformasi tidak lain ialah membangun suatu masyarakat madani Indonesia [H.A.R. Tilaar, 1999:168], oleh karena itu, arah perubahan paradigma baru pendidikan Islam diarahkan untuk terbentuknya masyarakat madani Indonesia tersebut.
Arah perubahan paradigma pendidikan dari paradigma lama ke paradigma baru, terdapat berbagai aspek mendasar dari upaya perubahan tersebut, yaitu, Pertama, paradigma lama terlihat upaya pendidikan lebih cenderung pada : sentralistik, kebijakan lebih bersifat top down, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat parsial, karena pendidikan didisain untuk sektor pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik dan keamanan, serta teknologi perakitan. Peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan pendidikan, dan lemahnya peran institusi pendidikan dan institusi non-sekolah. Kedua, paradigma baru, orientasi pendidikan pada: disentralistik, kebijakan pendidikan bersifat bottom up, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat holistik; artinya pendidikan ditekankan pada pengembangan kesadaran untuk bersatu dalam kemajemukan budaya, kemajemukan berpikir, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, produktif, dan kesadaran hukum.
Meningkatnya peran serta masyarakat secara kualitatif dan kuantitatif dalam upaya pengembangan pendidikan, pemberdayaan institusi masyarakat, seperti keluarga, LSM, pesantren, dunia usaha [Fasli Jalal, 2001: 5], lemabag-lembaga kerja, dan pelatihan, dalam upaya pengelolaan dan pengembangan pendidikan, yang diorientasikan kepada terbentuknya masyarakat nadani Indonesia.
Download Materi Lengkap PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI KERANGKA ACUAN PENATAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
KONSEP MANUSIA BERKUALITAS MENURUT AL-QUR’AN DAN UPAYA
Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik. Karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam artia tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai. Selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia (Rif’at Syauqi Nawawi, 1996 : 1). Manusia merupakan makhluk yang paling menakjubkan, makhluk yang unik multi dimensi, serba meliputi, sangat terbuka, dan mempunyai potensi yang agung.
Timbul pertanyaaan siapakah manusia itu? Pertanyaan ini nampaknya amat sederhana, tetapi tidak mudah memperoleh jawaban yang tepat. Biasanya orang menjawab pertanyaan tersebut menurut latar belakangnya, jika seseorang yang menitik beratkan pada kemampuan manusia berpikir, memberi pengertian manusia adalah “animal rasional”, “hayawan nathiq” “hewan berpikir”. Orang yang menitik beratkan pada pembawaan kodrat manusia hidup bermasyarakat, memberi pengertian manusia adalah “zoom politicon”, “homo socius”, “makhluk sosial”. Orang yang menitik beratkan pada adanya usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup, memberi pengertian manusia adalah “homo economicus”, “makhluk ekonomi”. Orang yang menitik beratkan pada keistimewaan manusia menggunakan simbul-simbul, memberi pengertian manusia adalah “animal symbolicum”. Orang yang memandang manusia adalah makhluk yang selalu membuat bentuk-bentuk baru dari bahan-bahan alam untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya, memberi pengertian manusia adalah “homo faber”, [Ahmad Azhar Basyir, 1984 : 7] dan seterusnya.
Download Materi Lengkap KONSEP MANUSIA BERKUALITAS MENURUT AL-QUR’AN DAN UPAYA
KETERAMPILAN MEMIMPIN
KEPEMIMPINAN :
- Proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan kelompok [ Koontz & O'donnel]• Kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan penuh semangat [Davis, 1977]
- • Mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka [Wexley & Yuki, 1977]
- • Pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan [Fiedler, 1967].
- Kepemipinan IslamSuatu proses atau kemampuan mempengaruhi orang lain, mengarahkan dan memotivasi tingkah laku orang lain, usaha kerjasama sesuai dengan qur’an dan hadis untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.
Download File Lengkap KETERAMPILAN MEMIMPIN
REKONSTRUKSI TAUHID, SOSIAL, DAN ETOS KERJA DARI PERISTIWA NABI IBRAHIM A.S
Keteladanan Nabi Ibrahim a.s, terasa sangat penting dan bermakna bagi umat manusia. Apabila memperhatikan di sekeliling kita, telah terjadi persoalan-persoalan hidup yang sebenarnya hanya kecil-kecilan dan tidak terlalu mendasar. Bahkan acapkali sangat bersifat kenak-kanakan yang didasarkan pada pemikiran2yang amat kerdil. Semua pesoalan tersebut “tidak dilandasi” pada “keimanan” dan “katqawaan”, tetapi pada “egoisme”, “kerakusan” dan “nafsu kebinatangan”. Contoh: seseorang membunuh isteri karena alasan cemburu, membunuh orang tua dan anak karena alasan yang sangat sederhana, memperkosa anak, memperkosa cucu sendiri dan membunuh karena hafsu kebinatangannya, perampokan dan pembunuhan. Mengedarkan narkoba karena alasan untuk “sepring nasi”, tetapi akibatnya mengorbankan generasi bangsa ini. Perilaku koropsi, pembobolan Bank dan sampai pada dana haji yang hanya disebabkan oleh manajemen “amanah” yang disalahgunakan dan berbagai persoalan yang kita amati dan terjadi.
Download Materi Lengkap REKONSTRUKSI TAUHID, SOSIAL, DAN ETOS KERJA DARI PERISTIWA NABI IBRAHIM A.S
KELUARGA SAKINAH
1. Fungsi Keluarga
a. Ciri khas keluarga
Keluarga dapat dilihat dari tiga aspek yang mendasarinya, yaitu: [1] persatuan hidup yang pasti dari orang tua sebagai suami isteri, [2] sebagai persekutuan kodrati bagi anak dalam pertumbuhan, [3] persekutuan kodrati yang abadi bagi anak dengan orang tua.
b. Keluarga adalah satu unsur dari lingkungan [catur pusat] pendidikan, yaitu : keluarga, sekolah, masyarakat, dan tempat ibadah [masjid]. Keluarga wajib membimbing agar anaknya menjadi pribadi-pribadi muslim yang bahagia dalam kehidupan di dunia dan akirat dan terlepas dari segala penderitaan hidup:
Artinya: Jagalah dirimu serta keluargamu dari siksaan api neraka” [Q.S. at-Tahrim:6]
2. Upaya Membentuk Keluarga Sakinah
Dalam lingkungan keluarga muslim, orang tua [bapak dan ibu] harus berusaha untuk menciptakan dan menanamkan kepribadian muslim dengan:
a. Tanamkan dan mendirik anak untuk bertaqwa kepada Allah, sebagaimana contoh Luqman al-Hakim dalam mendirik anaknya:
1 Makalah disampaikan pada acara Pelatihan Kader Motivator Keluarga Sakinah dan Pelatihan Kepemimpinan Islam di Kecamatan Semin, pada Kamis, 7 September 200.
2 Dosen tetap Fakultas Ilmu Agama Islam Jurusan Tarbiyah Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
Artinya: “Dan ingatlah takkala Luqman berkata kepada anaknya, sedang ia menasihati dia, hai anakku janganlah engkau sekutukan sesuatu dengan Allah, karena sesungguhnya syirik itu suatu penganiyaan diri yang besar” [Luqman:13]
Download File Lengkapnya KELUARGA SAKINAH