Menumbuhkan Kepekaan Sosial

Puasa ramadhan melahirkan sebuah konsepsi bahwa seseorang yang melaksakan ibadah puasa ramadhan tidak hanya saja melahirkan ekspresi dari orang yang cerdas secara spritual, tetapi juga cerdas secara emosional. Implikasi dari cerdar emosional inilah yang akan melahirkan kepekaan sosial, menumbuhkan sikap empati terhadap sesama manusia dalam bentuk ikut merasakan lapar yangbiasadialami orang-orang berkekurangan, mendorong gerakan memberi, membagi, bersedekah, serta disiplin terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku.Sebenarnya,konsepsitentang kepekaan sosial telah diintrodusir oleh Islam sejak kedatangannya. Salah satu contohnya adalah kewajiban membayar zakat, infak, bersedekah[QS. Al-Maidah:55],  menyantuni fakir miskin.

Islam hadir sebagai agama rahmatan lilalamin dalam konteks ibadahnya selalu memiliki ajaran-ajaran yang tidak hanya mengandung esensi ketuhanan (uluhiyyah) semata, tetapi juga esensi kemanusiaan (ubudiyyah)-insaniayah.Ajaran Islammembangun keseimbangan antara relasi  ketuhanan dan kemanusiaan, antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat secara seimbang.Islam selalu menerapkan dua pilar utama untuk menyeimbangkan kehidupan manusia dengan membentangkan dua garis relasi, yaitu;  (1) relasi manusia secara vertikal dengan Tuhan-nya  dalam hal ibadah (ubudiyah),hablum minallah;dan (2) relasi secara horizontal manusia dengan manusia dandengan makhluk yang lainnya dalam wujud amaliyah sosial,hablum minan naas[QS.Ali Imron:112].  Kedua relasi ini harus berjalan seimbang dalam tata kehidupan manusia dan lingkungannya.

Untuk menata hubungan “horizontal”, seseorang diharapkan mampu berdialog dengan Tuhan-nya, di mana seseorang harus memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatannya dalam relasi dengan sesamanya akan selalu terlihat dan terkontrol. Sementara dalampenataan hubungan “vertikal” dengan Tuhan-nya, seseorang kerap kali lupakan kewajibannya dalam menata hubungan sosialnya. Terkadang seseorang merasa lepas dari relasi horizontal dengan sesamanya, artinya tidak memiliki kewajiban dalam hal menolong sesamanya.Dalam kenyataan sehari-hari, tidak heran bahwa tidak sedikit orang yang selalu melaksanakan dan taat beribadah secara khusu’kepada Tuhan-nya ditempat-tempat ibadah, tetapidalam relasi sosialnyasangat rendah, karena ia tidak peduli dengan sesama, tidak empati terhadap sesamanya, bahkan pada tingkat yang sangat ekstrim berlaku zalim terhadap sesamanya.

Selengkapnya silahkan download 

Puasa Ramadhan Membentuk Kesalehan Individual dan Kesalehan Sosial

Ibadah puasa ramadhan merupakan saranatarbiyah, ta’lim, ta’dib untuk mendidik, membina, melatih, membentuk kepribadian manusia, agar  menjadi pribadi dewasa, unggul,dan  bertaqwa kepada Allah.Puasa ramadan merupakan latihan perwujudan diri sebagai proses untuk menjadi manusia yang sempurna-takwa-insan kamil.  Puasa ramadhan memberi pengaruh posetif terhadap diri baik pada aspek jasmani, jiwa, dan kehidupan sosial.Tentu saja mereka yang berpuasa terlatih dirinya untuk menjadi insan takwa, dewasa, kuat rohani, jasmaninya, dan tercerahkan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pelaksanaan puasa ramadan merupakan titik balik peradaban manusia untuk melatih diri manusia membangun relasi manusia dengan Tuhan-nya (hablun minallah) dan relasi manusia dengan manusia (hablun minan naas).

Ibadah puasa ramadhan adalah wajib hukumnya bagi orang-orang yang beriman.Tujuan puasa ramadhan adalah“la’allakum tattaquun”, agar menjadi manusia yang bertakwa (baca:QS.Al-Baqarah:183). Maka dalam melaksakan ibadah puasa ramadhan telah disyariatkan untuk membentuk insan bertakwa, yaitu pribadi manusia yang memiliki “dimensi ilahiyah” yang tinggi dan memiliki “dimensi insaniah”yang sempurna.Tetapi, seruan kepada takwa itu tidak hanya dalam ibadah puasa saja, tetapi juga pada ibadah-ibadah lain, bahkan segala aspek dalam muamalah atau tata hubungan manusia dengan manusia.Sebab suatu kegiatan ibadah juga mempunyai tujuan agar manusia membiasakan diri untuk mempertajam kepekaan sosialnya.

Di dalam “muttaqin” terdapat dua dimensi, yakni kesalehan individu dan kesalehan sosial. Pertama, dalam berpuasa, latihan untuk membentuk kesalehan individu yang merupakan target utama mencapai muttaqim. Dengan berpuasa berarti telah menandakan kepatuhan dan ketakwaan kepada Ilahi dan sadar perannya sebagai khalifah di muka bumi.Bentuk kesalehan inidividual yang terlatih dalam ibadah puasa yaitu memiliki semangat “spiritualitas” yang tinggi  dan diwujudkan dalam sistem kepercayaan yang menuntut manusia untuk melaksanakan apa yang baik (taqwā), menolak apa yang batil (fujūr). Kedua, kesalehan sosial adalah ibadah puasa melatih manusia untuk memiliki keperdulian sosial, memiliki sikap toleransi, sikap menghargai sesama manusia, meningkatkan kedisiplinan melalui pengaturan hidup sehari-hari di masyarakatdalam artian mematuhi semua aturan yang berlaku dalam kehidupan, baik itu norma, hukum, dan etika.

Selengkapnya silahkan HUJAIR; 2017; _1_ Hikmah Puasa; Kolom KR;2

RADIKALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN

Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, maka diperlukan pendidikan yang harus memberikan gambaran dan idealitas moral agamanya secara kontekstual. Dalam proses pendidikan diperlukan peninjauan ulang terhadap doktrin-doktrin agama yang kaku,seperti halnya doktrin jihad.Artinya, jihad bukan lagi dipahami sebagai persetujuan Islam untuk menggunakan kekerasan dalam menyebarkan agama. Pluralitas agama dan keyakinan tidak lagi dipahami sebagai potensi kerusuhan, melainkan menjadi potensi untuk  diajak bersama melaksanakan ajaran demi kepentingan kemanusiaan. Seluruh agama harus mengklaim  perdamaian dan keselamatan manusia. Dalam konteks ini pendidikan memiliki peran penting  untuk menumbuhkan sikap awal, agar tidak hanya dapat menerima keberdaan agama lain saja, tapi juga mampu bekerja sama dengan keyakinan atau agama yang berbeda. Ini berarti,pendidikan harus memungkinkan tumbuhnya persaudaraan dalam kebersamaan tersebut, sehingga dapat bersama membangun dunia baru yg lebih bermakna bagi seluruh manusia. Disain pendidikanharus mengakomodasi pluralis dan toleran. Diperlukan sikap guru-guru agama yang toleran dan pluralis pula.Kata kunci; Pendidikan yang humanis.

Selengkapnya silahkan download

Ramadhan sebagai bulan Pendidikan Karakter

Ibadah puasa ramadhan merupakan sarana tarbiyahuntuk membina, melatih, atau membentuk kepribadian manusia, agar  menjadi pribadi unggul yang bertaqwa kepada Allah.Ramadhan hadir sebagai bulan pendidikan (syahrul Tarbiyah).Pendidikan dalam pengertian yang komprehensif-integratif.Proses pendidikan yang tidak hanya memiliki makna sebagai sarana pelatihan saja, tetapi lebih dari itu, yaitu memiliki makna bimbingan, pembiasaan perilaku, pembudayaan nilai, dalam rangka tumbuhnya karakter-karakter positif, tumbuhnya akhlakul karimah,lahirnya jiwa keagamaan yang inovatif, kreatif, dan transformatif.

Bulan ramadhan menjadi momentum yang sangat tepat bagi orang beriman untuk merevitalisasi kembali nilai-nilai spritualitasnya.Puasa ramadhan dipakai sebagai sarana untuk revolusi mental dan karakterdengan melakukan latihan, pembiasaan, agar manusialebih terbiasamengenal kewajibannya, berlatihkejujuran, sabar, dan kecerdasan emsional.Melatih meningkatkan kecerdasansosial,memiliki kepekaan (sense of responsibility) dan tanggung jawab sosial.Akan lahirmanusia yang memiliki sikap empati pada sesama, merasakan penderitaan orang lain, berbuat dan bermanfaat untuk orang lain,orang yang toleran, sebagai sikap kesalehan sosial.

Dalam ibadah puasa melatih kita untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, sehingga mempunyai perasaan keterikatan dengan Allah SWT dan dengan diri sendiri.Melatih sikap spiritualisme dan moral-akhlak. Menuntut manusia untuk melaksanakan apa yang baik (taqwā), menolak apa yang batil (fujūr).Selain itu dalam ibadah puasa juga melatih kita untukmeningkatkan kedisiplinan melalui pengaturan hidup sehari-hari,dalam artian mematuhi semua aturan yang berlaku dalam kehidupan, baik itu norma-norma agama, atauran negara, maupun norma-norma di masyarakat.Karena itu, ramadhan menjadi sarana untuk mendidik, melatih, membimbingdan penanaman nilai-nilaikarakter.

Setidanya dalam puasa ramadhan ada bebarapa nilai-nilai karakter yang dapat diambil, diantaranya:(1) Puasa mengajarkan kita adanya sikap ketunduhan dan kepatuhan kepada Sang Pencipta Allah SWT denganmengerjakan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang. (2)  Puasa mengajarkan manusia untuk menegakkan nilai-nilai kejujuran, bersikap benar, dan amanah.(3) Puasa mengajarkan manusia untuk menghilangkan sifat-sifat angkuh, sombong, bakhil, egois, dan sifat-sifat tidak terpuji lainnya. (4) Puasa mengajarkan manusia untukberjiwa sosial,memiliki kepekaan sosial yang tinggi, sehinggalahirlahsikap kritis, peduli terhadap lingkungan sosial sekitar, terjadi pertautan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. (5) Puasa mengajarkan manusiauntuk berusaha mampu untuk menahan, mengendalikan diri, bersifat sabar,dan hidup sederhana.

Selengkapnya silakan download 

Hikmah; Manfaat,Tujuan di Balik Puasa Ramadhan

Ibadah puasa ramadhan adalah wajib hukumnya di dalam Islam.Puasa bila ditinjau dari segi bahasa adalah menahan diri. Dari sisi syara’ adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa sejak dari terbit fajar sampai terbenam matahari yang disertai dengan niat.Ibadah puasa memiliki hikmah yang luar biasa. Selain telah diwajibkan pada umat Nabi Muhammad, puasa juga telah diwajibkan kepada umat-umat manusia terdahulu.

Kewajiban puasa adalah kewajiban yang sudah ada sejak dulu kala kepada umat-umat manusia terdahulu.Inilah yang menjdi keistimewaan puasa, sehingga orang terdahulupun memiliki tuntunan ibadah puasa.Katakan saja,“puasa sudah dikenal sejak zaman bangsa Mesir Kuno dan selanjunta meluas sampai ke Yunani dan Romawi. Dalam Taurat, puasa juga disebutkan bahwa orang yang melakukan puasa sangat dipuji, hanya saja tidak disebut wajibnya puasa.Nabi Musa sendiri melaksanakan puasa selama 40 hari. Dalam kitab injil juga tidak ada bagian yang menyebutkan wajibnya puasa. Tetapi disebutkan bahwa puasa merupakan salah satu jenis ibadah yang sangat terpuji (Amad Mustafa Al-Maraghi, 1984:124).

Allah mengabarkan kepada umat Muhammad,bahwa puasa itu juga telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa.Inipun dalam rangka memotivasi dan menghibur hati umat manusia sekarang ini. Tatkala mereka mengetahui bahwa puasa juga sudah diwajibkan kepada umat-umat selain mereka, niscaya puasa itu akan terasa ringan bagi mereka. Ini merupakan salah satu cara untuk mendidik, memotivasi, dan menghibur umat manusia yang berpuasa.

Selengkapnya silahkan download 

BAHAN AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH DASAR LUAR BIASA TUNA GRAHITA RINGAN

Penelitian ini berlatar belakang adanya permasalahan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Tuna Grahita Ringan (C) di SDLB Bhakti Kencana Berbah Sleman dan SDLB secara umum. Peneliti berasumsi bahwa kurikulum yang dilaksanakan dalam pembelajaran PAI di SD Tuna Grahita C tidak sesuai dengan difabelitas yang disandang oleh siswa. Hal ini terlihat dari rumusan standar kompetensi untuk SD tuna Grahita yang tidak berbeda dengan standar kompetensi untuk anak normal.  Pembedaan antara siswa normal dan Tuna Grahita C adalah sangat jelas, yaitu perbedaan “kemampuan IQ”.

Dari latar belakang permasalahan tersebut, penelitian ini mengambil sebagian aspeknya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, yaitu dengan menggunakan strategi optimalisasi bahan ajar sebagai pecapaian standar kompetensi PAI SD Kelas 1 untuk anak tuna grahita ringan. Rumusan masalah yang dijawab dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Model Bahan Ajar PAI bagi anak Sekolah Dasar Luar Biasa Tunagrahita ringan (C) Kelas I yang Efektif?”

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development). Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa  Modul PAI untuk kelas 1 SD Tuna Ghrahita yang layak dipakai dalam pembelajaran  adalah bahan ajar yang berprinsip; (a) dari yang mudah ke yang sulit, dari yang kongkrit ke abstrak, dari yang sederhana ke yang komplek, (b) sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa; (c) menekankan keterampilan fungsional dengan kondisinya; (d) menarik dan membantu penyajian. Desain modul yang dikembangkan berisi langkah-langkah yang lebih lengkap dari yang sudah ada, sehingga dapat mempermudah siswa dalam pembelajaran.

Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan, adalah modul yang: (1) Mempunyai Kelayakan Isi dengan kategori Baik; (2)  Dari aspek bahasa dan gambar juga menunjukkan hasil Baik; (3) Dilihat dari aspek penyajian menunjukkan hasil Baik; (4) Dari aspek penyajian termasuk kategori “Sangat baik“ karena memiliki keseimbangan teks dengan gambar, ukuran gambar, penggunaan huruf, sampul modul yang menarik, sehingga mempermudah siswa memahami materi dalam modul.

Selengkapnya silahkan download 

PENGARUH KEBIJAKAN WAJIB SALAT BERJAMAAH TERHADAP ETOS KERJA PEGAWAI DAERAH KABUPATEN ROKAN HULU

Sejak tahun 1999 Pemerintah Pusat telah membuat kebijakan tentang Otonomi Daerah dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 22/1999 tentang Pemerintah Daerah.Undang–undang ini telah mengubah peta politik dalam penataan kewenangan dan kewajiban pemerintah.Pemerintah daerah yang semula dikendalikan pemerintah pusat menjadi otonomi daerah.Menurut undang-undang tersebut pihak pemerintah daerah memiliki kewenangan yang lebih luas atau lebih besar dalam mengatur pemerintahannya sendiri.

Kewenangan yang lebih luas tersebut, menuntut pemerintah daerah untuk lebih giat dan lebih peka dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam pembangunan daerah. Para pegawai pemerintah daerah dituntut untuk memiliki etos kerja yang tinggi agar semua pekerjaan yang berhubungan dengan pembangunan daerah dan pelayanan terhadap masyarakat dapat dilaksanakan dengan baik.

Etos kerja merupakan cerminan dari sikap hidup yang mendasar dalam menghadapi dunia kerja. Pembentukan dan penguatan etos kerja tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas pendidikan atau prestasi yang berhubungan dengan profesi dan dunia kerja, tetapi juga ditentukan oleh faktor-faktor lain seperti suasana batin dan semangat hidup yang bersumber pada keyakinan atau iman.1

Selengkapnya silahkan download

PERAN DOKTER SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN DI MASYARAKAT

Dalam firman Allah SWT dikatakan bahwa setiap makhluk harus mentaati Allah, Rasul, dan Perpanjangan tangan Allah di bumi yaitu pemimpin.

“Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan para ulul amri diantara kalian” [QS An-Nisaa’ : 59]

Kepemimpinan mengacu pada suatu proses untuk menggerakkan sekumpulan manusia menuju ke suatu tujuan yang telah ditetapkan dengan mendorong mereka bertindak dengan cara yang tidak memaksa. Kepemimpinan yang baik menggerakkan manusia ke arah jangka panjang, yang betul-betul merupakan kepentingan mereka yang terbaik. Arah tersebut bisa bersifat umum, seperti penyebaran Islam ke seluruh dunia, atau khusus seperti mengadakan konferensi mengenai isu tertentu. Walau bagaimanapun, cara dan hasilnya haruslah memenuhi kepentingan terbaik orang-orang yang terlibat dalam pengertian jangka panjang yang nyata.

DOWNLOAD PERAN DOKTER SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN DI MASYARAKAT

DEMOKRASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Konsep kepemimpinan dalam Islam sebenarnya memiliki dasar-dasar yang sangat kuat dan kokoh. Ia dibangun tidak saja oleh nilai-nilai transendental, namun telah dipraktekkan sejak berabad-abad yang lalu oleh nabi Muhammad SAW, para Shahabat dan Al-Khulafa’ Al-Rosyidin. Pijakan kuat yang bersumber dari Al-qur’an dan Assunnah serta dengan bukti empiriknya telah menempatkan konsep kepemimpinan Islam sebagai salah satu model kepemimpinan yang diakui dan dikagumi oleh dunia internasional.

DOWNLOAD DEMOKRASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

HASIL PENELITIAN PEMIKIRAN PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM MENUJU PEMBENTUKAN MASYARAKAT MADANI INDONESIA

Masyarakat madani adalah suatu bentuk masyarakat yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw sendiri yang memberikan teladan ke arah pembentukan masyarakat peradaban tersebut yang merupakan sebuah negara yang lahir dari peristiwa hijrah. Dengan demikian masyarakat madani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw di kota Madinah yang telah berhasil dalam prakteknya dengan menerapkan Konstitusi Piagam Madinah; memberlakukan nilai-nilai keadilan; prinsip kesetaraan hukum; jaminan kesejahteraan bagi semua warga; serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. Kalangan pemikir muslim menganggap masyarakat (kota) madinah sebagai prototype masyarakat ideal produk Islam yang bisa dipersandingkan dengan masyarakat ideal dalam konsep civil society”.

DOWNLOAD PENDIDIKAN ISLAM MENUJU PEMBENTUKAN MASYARAKAT MADANI

Laman Berikutnya »