Bahan Ajar Modul III : Metodologi Studi Islam

Berbicara tentang penelitian agama dianggap tabu, sacral dan  orang akan berkata kenapa agama yang sudah begitu mapan dan sebagai wahyu Allah, kenapa harus diteliti. Sikap serupa juga pernah terjadi di dunia Barat. Dahulu orang atau bangsa Eropa juga menolak anggapan adanya kemungkinan meneliti agama, sebab antara ilmu dan nilai (value), antara ilmu dan agama (kepercayaan) tidak dapat disinkronkan. Maka kita akan melihat agama sebagai gejala budaya dan sosial, Islam sebagai wahyu dan produk sejarah.

a. Agama sebagai Gejala Budaya dan Sosial

Timbul pertanyaan, dapatkah agama didekati secara kualitatif atau kuantitatif? Jawabannya, dapat. Artinya agama dapat didekati secara kualitatif dan kuantitatif sekaligus, atau salah satunya, tergantung unsure-unsur agama yang diteliti itu dilihat sebagai gejala apa.

Lima bentuk gejala agama yang diperhatikan, apabila kita hendak mempelajari atau meneliti suatu agama, yaitu: (1) Scripture, naskah-naskah atau sumber ajaran dan simbol-simbol agama. (2) Para penganut, pimpinan, pemuka agama, menyangkut dengan sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya. (3) Ritus-ritus, lembaga-lembaga, ibadat-ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris. (4) Alat-alat, seperti masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya. (5) Organisasi-organisasi kegamaan, tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Gejera Katholik, Protestan, Syi’ah, Sunni dan sebagainya.[1]

 

Selengkapnya silahkan download

Comments

Got something to say?