REFORMASI PENDIDIKAN SUATU KEHARUSAN UNTUK MEMASUKI MILENIUM III

Reformasi merupakan istilah yang amat populer pada masa krisis ini dan menjadi kata kunci dalam membenahi seluruh tatanan hidup berbangsa dan bernegara di tanah air tercinta ini, termasuk reformasi di bidang pendidikan [Suyanto dan Hisyam, 2000:1].

Read more

TEKNIK MENYUSUN ALAT EVALUASI BELAJAR MATA PELAJARAN AL-ISLAM DAN BAHASA ARAB1

1. EVALUASI HASIL BELAJAR•

Mengukur :

  • Membandingkan sesuatu dengan satu ukuran [kuantitatif] – mengetahui keadaan suatu hal menurut apa adanya yang biasanya dinyatakan dalam bilangan.
  • Menilai : Keputusan terhadap sesuatu ukuran “baik – buruk” [kualitatif] – pemberian makna dari hasil pengukuran dengan suatu acuan yang relevan – sehingga diperoleh hasil kualitas.
  • Evaluasi hasil belajar adalah Langkah mengukur dan menilai. Evaluasi pengajaran – penaksiran atau penilaian terhadap pertumbuhan dan perkembangan mahasiswa yang didasarkan pada tujuan yang telah ditetapkan di dalam kurikulum.

Read more

PENDIDIKAN ISLAM ALTERNATIF UPAYA MENGEMBANGKAN MADRASAH

Di Indonesia kita kenal, berbagai bentuk dan jenis pendidikan Islam, seperti Pondok Pesantren, Madrasah, Sekolah Umum bercirikan Islam, Perguruan Tinggi Islam dan jenis-jenis pendidikan Islam luar sekolah, seperti Taman Pendidikan al-Qur’an [TPA], Pesantrenisasi dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya merupakan aset dan salah satu dari konfigurasi sistem pendidikan nasional Indonesia. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sebagai khasanah pendidikan dan diharapkan dapat membangun dan memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal, tetapi pada kenyataan pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaiang dalam membangun umat yang besar ini.

Read more

PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM MENUJU MASYARAKAT MADANI

Akhir-akhir ini sering muncul ungkapan dari sebahagian pejabat pemerintah, politisi, cendekiawan, dan tokoh-tokoh masyarakat tentang masyarakat madani (sebagai terjemahan dari kata civil society). Tanpaknya, semua potensi bangsa Indonesia dipersiapkan dan diberdayakan untuk menuju masyarakat madani yang merupakan cita-cita dari bangsa ini. Masyarakat madani diprediski sebagai masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama.

Read more

PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN TENTANG KONSEP PENDIDIKAN TINGGI ISLAM

Fazlur Rahman (selanjutnya ditulis “Rahman”), dapat dikategori sebagai salah seorang pemikir neomodernis yang paling serius dan produktif dan juga sebagai seorang tokoh intelektual Muslim yang memiliki latar belakang yang menarik. Rahman memiliki latar belakang tradisi keilmuan yang bertentangan : keilmuan madrasah India Pakistan yang tardisional dan keilmuan Barat yang liberal, keduanya berpengaruh dalam membentuk intelektualismenya. Agaknya, demikianlah yang dimaksud oleh Syafi’i Ma’arif – seorang yang pernah berguru kepadanya yang menyatakan bahwa dalam diri gurunya, Rahman terkumpul ilmu seorang ‘alim yang ‘alim dan ilmu seorang orientalis yang beken (Syafi’i Ma’arif, 1984 : p. vi).

“Rahman” menyuguhkan analisis perkembangan pendidikan tinggi Islam. Rahman merumuskan alternatif metodologi pemikiran keislaman, sebagai rumusan jalan keluar dari seluruh kritisisme atas sejarah pemikiran keislaman. Krisis metodologi tampaknya sangat disadari oleh Rahman sebagai penyebab kemunduran pemikiran Islam. Tampaknya bahwa alternatif metodologi dipandang Rahman sebagai titik pusat penyelesaian krisis intelektualisme Islam. Implikasi dari alternatif metodologis ini merupakan proyek besar ummat Islam mengarah pada pembaharuan pemikiran Islam. Rahman menyadari bahwa proyek besar tersebut selain memer-lukan waktu yang panjang juga memerlukan sarana penunjuang. Sarana penunjuang yang dimaksud oleh Rahman tiada lain adalah sistem pendidikan Islam, sistem pendidikan harus terlebih dahulu dimodernisasi, yakni membuatnya mampu menyokong produktivitas intelektual Islam dengan cara menaikkan standar-standar intelektualnya. 

Download Materi Lengkap PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN TENTANG KONSEP PENDIDIKAN TINGGI ISLAM

PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

Fazlur Rahman (selanjutnya ditulis Rahman), sebagai seorang tokoh intelektual Muslim yang memiliki latar belakang yang menarik. Rahman, memiliki latar belakang tradisi keilmuan madrasah India – Pakistan yang tardisional dan keilmuan Barat yang liberal. Keduanya berpengaruh dalam membentuk intelektualismenya. Syafi’i Ma’arif, yang pernah berguru kepadanya, menyatakan bahwa dalam diri gurunya [Rahman] terkumpul ilmu seorang ‘alim yang ‘alim dan ilmu seorang orientalis yang beken(Syafi’i Ma’arif, 1984:p.vi).Rahman menyuguhkan analisis perkembangan pendidikan tinggi Islam dan merumuskan alternatif metodologi pemikiran keislaman, sebagai rumusan jalan keluar dari seluruh kritisisme atas sejarah pemikiran keislaman. Krisis metodologi tampaknya sangat disadari oleh Rahman sebagai penyebab kemunduran pemikiran Islam, karena alternatif metodologi dipandangnya sebagai titik pusat penyelesaian krisis intelektualisme Islam. Implikasi dari alternatif metodologis ini, menurutnya merupakan proyek besar ummat Islam yang mengarah pada pembaharuan pemikiran Islam.

Rahman, menyadari bahwa proyek besar tersebut selain memerlukan waktu yang panjang juga memerlukan sarana penunjuang. Menurutnya sarana penunjuang yang dimaksud tiada lain adalah sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan harus terlebih dahulu dimodernisasi, membuatnya mampu menyokong produktivitas intelektual Islam dengan cara menaikkan standar-standar intelektualnya(Rahman : 134). 

Download Materi Lengkap PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM

Proses pendidikan yang berakar dari kebudayaan, berbeda dengan praksis pendidikan yang terjadi dewasa ini yang cenderung mengalienasikan proses pendidikan dari kebudayaan. Kita memerlukan suatu perubahan paradigma [paradigma shift] dari pendidikan untuk menghadapi proses globalisasi dan menata kembali kehidupan masyarakat Indonesia. Cita-cita era reformasi tidak lain ialah membangun suatu masyarakat madani Indonesia1, oleh karena itu, arah perubahan paradigma baru pendidikan Islam diarahkan untuk terbentuknya masyarakat madani Indonesia tersebut.

Arah perubahan paradigma pendidikan dari paradigma lama ke paradigma baru, terdapat berbagai aspek mendasar dari upaya perubahan tersebut, yaitu, Pertama, paradigma lama terlihat upaya pendidikan lebih cenderung pada : sentralistik, kebijakan lebih bersifat top down, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat parsial, karena pendidikan didisain untuk sektor pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik dan keamanan, serta teknologi perakitan. Peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan pendidikan, dan lemahnya peran institusi pendidikan dan institusi non-sekolah. Kedua, paradigma baru, orientasi pendidikan pada: disentralistik, kebijakan pendidikan bersifat bottom up, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat holistik; artinya pendidikan ditekankan pada pengembangan kesadaran untuk bersatu dalam kemajemukan budaya, kemajemukan berpikir, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, produktif, dan kesadaran hukum. Meningkatnya peran serta masyarakat secara kualitatif dan kuantitatif dalam upaya pengembangan pendidikan, pemberdayaan institusi masyarakat, seperti keluarga, LSM, pesantren, dunia usaha2, lemabag-lembaga kerja, dan pelatihan, dalam upaya pengelolaan dan pengembangan pendidikan, yang diorientasikan kepada terbentuknya masyarakat nadani Indonesia. 

Download Materi Lengkap PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM [Sebuah Upaya Menuju Pendidikan yang Memberdayakan]

Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif [kedewasaan], baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban-sebagai seorang hamba [abd] dihadapan Khaliq-nya dan sebagai “pemelihara” [khalifah] pada semesta [Tafsir, 1994]. Dengan demikian, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapakn peserta didik [generasi penerus] dengan kemampuan dan keahlian [skill] yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat [lingkungan], sebagai tujuan akhir dari pendidikan.

Tujuan akhir pendidikan dalam Islam, sebagai proses pembentukan diri peserta didik [manusia] agar sesuai dengan fitrah keberadaannya [al-Attas, 1984]. Hal ini meniscayakan adanya kebebasan gerak bagi setiap elemen dalam dunia pendidikan – terutama peserta didik — untuk mengembangkan diri dan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Pada masa kejayaan Islam, pendidikan telah mampu menjalankan perannya sebagai wadah pemberdayaan peserta didik, namun seiring dengan kemunduran dunia Islam, dunia pendidikan Islam pun turut mengalami kemunduran. Bahkan dalam paradigma pun terjadi pergeseran dari paradigma aktif-progresif menjadi pasid-defensif. Akibatnya, pendidikan Islam mengalami proses ‘isolasi diri’ dan termarginalkan dari lingkungan di mana ia berada 

Download Materi Lengkap PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI KERANGKA ACUAN PENATAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

Proses pendidikan yang berakar dari kebudayaan, berbeda dengan praksis pendidikan yang terjadi dewasa ini yang cenderung mengalienasikan proses pendidikan dari kebudayaan. Kita memerlukan suatu perubahan paradigma [paradigma shift] dari pendidikan untuk menghadapi proses globalisasi dan menata kembali kehidupan masyarakat Indonesia. Cita-cita era reformasi tidak lain ialah membangun suatu masyarakat madani Indonesia [H.A.R. Tilaar, 1999:168], oleh karena itu, arah perubahan paradigma baru pendidikan Islam diarahkan untuk terbentuknya masyarakat madani Indonesia tersebut.

Arah perubahan paradigma pendidikan dari paradigma lama ke paradigma baru, terdapat berbagai aspek mendasar dari upaya perubahan tersebut, yaitu, Pertama, paradigma lama terlihat upaya pendidikan lebih cenderung pada : sentralistik, kebijakan lebih bersifat top down, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat parsial, karena pendidikan didisain untuk sektor pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik dan keamanan, serta teknologi perakitan. Peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan pendidikan, dan lemahnya peran institusi pendidikan dan institusi non-sekolah. Kedua, paradigma baru, orientasi pendidikan pada: disentralistik, kebijakan pendidikan bersifat bottom up, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat holistik; artinya pendidikan ditekankan pada pengembangan kesadaran untuk bersatu dalam kemajemukan budaya, kemajemukan berpikir, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, produktif, dan kesadaran hukum.

Meningkatnya peran serta masyarakat secara kualitatif dan kuantitatif dalam upaya pengembangan pendidikan, pemberdayaan institusi masyarakat, seperti keluarga, LSM, pesantren, dunia usaha [Fasli Jalal, 2001: 5], lemabag-lembaga kerja, dan pelatihan, dalam upaya pengelolaan dan pengembangan pendidikan, yang diorientasikan kepada terbentuknya masyarakat nadani Indonesia.

Download Materi Lengkap PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI KERANGKA ACUAN PENATAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

KONSEP MANUSIA BERKUALITAS MENURUT AL-QUR’AN DAN UPAYA

Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik. Karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam artia tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai. Selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia (Rif’at Syauqi Nawawi, 1996 : 1). Manusia merupakan makhluk yang paling menakjubkan, makhluk yang unik multi dimensi, serba meliputi, sangat terbuka, dan mempunyai potensi yang agung.

Timbul pertanyaaan siapakah manusia itu? Pertanyaan ini nampaknya amat sederhana, tetapi tidak mudah memperoleh jawaban yang tepat. Biasanya orang menjawab pertanyaan tersebut menurut latar belakangnya, jika seseorang yang menitik beratkan pada kemampuan manusia berpikir, memberi pengertian manusia adalah “animal rasional”, “hayawan nathiq” “hewan berpikir”. Orang yang menitik beratkan pada pembawaan kodrat manusia hidup bermasyarakat, memberi pengertian manusia adalah “zoom politicon”, “homo socius”, “makhluk sosial”. Orang yang menitik beratkan pada adanya usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup, memberi pengertian manusia adalah “homo economicus”, “makhluk ekonomi”. Orang yang menitik beratkan pada keistimewaan manusia menggunakan simbul-simbul, memberi pengertian manusia adalah “animal symbolicum”. Orang yang memandang manusia adalah makhluk yang selalu membuat bentuk-bentuk baru dari bahan-bahan alam untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya, memberi pengertian manusia adalah “homo faber”, [Ahmad Azhar Basyir, 1984 : 7] dan seterusnya. 

Download Materi Lengkap  KONSEP MANUSIA BERKUALITAS MENURUT AL-QUR’AN DAN UPAYA

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline