Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21, Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed

Persoalan pendidikan seiring sejalan dengan persoalan kehidupan manusia. Artinya bahwa selama kehidupan manusia berjalan selama itu pula persoalan pendidikan menjadi perhatian serius bagi semua kalangan. Pendidikan adalah jantungnya kehidupan setiap bangsa, karena pendidikan merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. Bangsa maju adalah bangsa yang mengarusutamakan kepentingan pendidikan di atas kepentingan yang lain. Bangsa maju adalah bangsa yang memberikan pelayanan pendidikan secara maksimal bagi warga negara.

Setiap negara di dunia ini pasti memiliki problem dalam mengelola pendidikan. Begitu pun Indonesia. Pendidikan Indonesia sampai sekarang pun masih meninggalkan persoalan yang kadang mengundang pro dan kotra bagi masyarakat Indonesia. Contohnya: masalah Ujian Nasional (UN) yang dianggap tidak memegang prinsip keadilan bagi semua peserta didik di sekolah Indonesia, Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang terkesan adanya kastanisasi pendidikan, Pendidikan Nasional yang tidak mengapresiasi pengembangan karakter peserta didik, dan persoalan-persoalan lainnya. Selain masalah internal, secara global, posisi pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara lain.

Pada tanggal 2 Nopember 2011, UNDP mengeluarkan Daftar Human Developtmen Index (HDI) dan Indonesia berada pada posisi 124 dari 187 negara. HDI Bidang Pendidikan, Indonesia No.119 dari 187 Negara. Di Asia Pasifik, Indonesia No.12 dari 21 Negara. Di bidang Kesehatan, Indonesia No.118 dari 187 Negara. Di Asia Pasifik, Indonesia No.11 dari 21 Negara, dan Income Percapita Indonesia, No.122 dari 187 Negara. Sedang di Asia Pasifik, Indonesia No.9 dari 21 Negara. Ukuran penilaian HDI adalah bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi melalui income per kapita. Di lihat dari hasil HDI tersebut, khusus bidang pendidikan, Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara lain, dan bahkan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, maupun Australia.

Download selengkapnya

Menuju Integrasi Antara Sains dan Agama

Cara memandang ilmu pengetahuan vis a vis agama secara dikotomik sudah sejak lama ditinggalkan orang. Tetapi ada saja, ketika kita mendengar kata ”sains” dan ”agama, serta merta orang akan berpkir akan sejarah hubungan seru di antara keduanya. Dalam catatan sejarah perjumpaan agama dengan sains tidak hanya berupa pertentangan belaka,[ tetapi juga orang berusaha untuk mencari hubungannya antara keduanya pada posisi yaitu sains tidak mengarahkan agama kepada jalan yang dikehendakinya dan agama juga tidak memaksanakan sains untuk tunduk pada kehendaknya.

Memang, science and religion merupakan wacana yang selalu menarik perhatian di kalangan intelektual.  Hingga kini, masih saja ada  anggapan yang kuat dalam masyarakat luas yang mengatakan bahwa ”agama” dan ”ilmu” adalah dua entitas yang tidak dapat dipertemukan.  Keduanya mempunyai wilayah masing-masing, terpisah antara satu dan lainnya, baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan.  Ungkapan lain, ilmu tidak memperdulikan agama dan agama-pun tidak memperdulikan ilmu.

”Banyak pemikir yang sangat yakin bahwa agama tidak akan pernah dapat didamaikan dengan sains. Menurut mereka, apabila saudara seorang ilmuwan, sulitlah membanyangkan bagaimana saudara secara jujur dapat serentak ”saleh-beriman”, setidak-tidaknya dalam pengertian percaya akan Tuhan. Alasan utama mereka bahwa agama jelas-jelas ”tidak dapat membuktikan” kebenaran ajaran-ajarannya dengan tegas, sedangkan apakah sains dapat melakukan hal itu, yaitu dapat membuktikan kebenaran temuannya.

Download selengkapnya


Idul Fitri: Kembali kepada Fitrah

Puasa ramadan adalah bulan yang menghidupkan energi spiritual relegius, karena berbagai kegiatan ritual keagamaan dan berbagai kebiasaan yang dilakukan manusia. Artinya selama satu bulan penuh manusia digembleng Allah swt dalam suatu training ruhani. Patut dikatakan bahwa ibadah puasa ramadan merupakan sarana untuk mendidik, membina, melatih, membentuk kepribadian, agar menjadi peribadi dewasa, unggul, kuat rohaninya, tercerahkan perilakunya. Maka sewajarnya akhir puasa ramadan akan lahir manusia kembali ke fitrah, manusia taqwa, memiliki peribadi pesona dan lemah-lembut.

Di bulan ramadan manusia seperti memiliki sistem atau mekanisme yang selalu mengingatkan untuk tidak gampang berbuat dosa dan kemaksiatan. Karena puasa ramadan melatih diri manusia untuk membangun relasi dengan Tuhan-nya (hablun minallah) dengan berbagai kegiatan ibadah. Membangun relasi manusia dengan manusia (hablun minan naas), berupa memperhatikan dan menyantuni fakir miskin, menghargai perbedaan, membangun toleransi sesama umat manusia. Untuk itu pada akhir ramadan diharapkan lahir manusia baru atau manusia yang kembali kepada fitrah-suci. Manusia baru-fitrah adalah manusia yang membiasakan diri untuk selalu mendekatan diri kepada Allah, mengendalikan ketajaman hawa nafsu, berkata dan bersikap jujur, membangun relasi sosial yang baik,  membiasakan hidup keteraturan, tidak ada perbedaan dalam menjalankan kewajiban agama, membersihkan jiwa, membuka hati untuk tetap menjadi manusia baru.

Download selengkapnya

Pemikiran Pendidikan Multikulturalisme

Konsep pendidikan multikultural mengakui adanya keragaman etnik dan budaya masyarakat suatu bangsa.  Dari perspektif ini, kiranya pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai “pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan”. Dalam artian pendidikan selalu relevan dengan keragaman budaya, sehingga pendidikan bukan merupakan “menara gading” yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya.  Pendidikan harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagi akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialaminya, bukan juga masyarakat yang hanya mengagumi kemajuan orang lain dan menjadi masyarakat konsumtif dari kemajuan tersebut,  tetapi masyarakat  yang belajar dari culture-nya sendiri dan mengembangkannya dengan menggunakan perspektif atau cara berpikir global.

Untuk memahami pendidikan multikulturalisme diperlukan landasan bangunan konsep yang relavan untuk mendukung keberadaan serta berfungsinya pendidikan multikultural dalam kehidupan manusia Indonesia.  Pendidikan multikultural (multicultural education)  tidak persis sama dengan enkulturasi ganda (multiple enculturation). Konsep multicultural tidak dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman sukubangsa dan sebagainya.  Sizemore (1978:2), membedakan antara pendidikan multikultural dengan enkulturasi ganda.  Menurutnya, enkulturasi lebih menekankan pada integrasi struktural yang mengaburkan makna akulturasi dengan enkulturasi. Pendidikan multikultural menurutnya merupakan sebuah proses pemerolehan pengetahuan untuk dapat mengontrol orang lain demi sebuah kehidupan (survival).Dari kerangka pemikiran ini maka pendidikan multikultural sebenarnya merupakan sikap “peduli” dan mau mengerti (difference) atau “politics of recognition”, politik pengakuan terhadap orang-orang dari kelompok minoritas.

Download selengkapnya


Pendidikan Berkarakater Bangsa

Indonesia adalah salah satu negara yang multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Keragaman ini diakui atau tidak, menimbulkan berbagai macam persoalan yang sekarang ini dihadapi bangsa ini, seperti KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), premanisme,   perseteruan   politik,   kemiskinan, kekerasan, separatisme, perusakan lingkungan dan hilangnya kemanusiaan untuk selalu menghargai hak-hak orang lain.

Agama dan budaya menjadi sangat problematik ketika memiliki implikasi horizontal. Yaitu, satu keberagamaan atau kebudayaan seseorang atau kelompok tertentu bergesekan dengan keberagamaan atau keberbudayaan orang atau kelompok lain. Perjumpaan antariman dan budaya dewasa ini, akibat faktor-faktor eksternal seperti globalisasi, politik domestik, dan kondisi sosial budaya, selain faktor-faktor internal seperti penafsiran agama dan budaya, telah melahirkan problem-problem fundamentalisme, konflik antar agama, konflik etnis, serta ketegangan budaya.

Download selengkapnya

Membentuk Insan Kamil

Puasa ramadan bagi kaum muslimin sebagai kewajiban dan perwujudan keimanan. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183, tradisi puasa adalah gejala universal. Artinya ibadah puasa telah dilakukan oleh umat terdahulu, berbagai agama, suku, bangsa dalam berbagai peradaban umat manusia.

Puasa ramadhan merupakan sarana pendidikan bagi pembentuk akhlak manusia. Wahana penggemblengan pribadi, spiritual-emsional yang revolusioner dalam kehidupan manusia beriman. Melatih diri untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, melatih diri untuk menahan nafsu duniawiyah. Pada bulan ramadhan seorang muslim ditempa dalam latihan-latihan spiritual (riadhah) dengan menjalankan kewajiban berpuasa dan ibadah-ibadah lainnya. Puasa mempunyai demensi rohani untuk melatih kejujuran, kesabaran, keikhlasan. Inti pokok dari ibadah puasa ramadhan adalah terbentuknya manusia yang bertakwa, insan kamil berkualitas.

Download Selengkapnya

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA “PARADIGMA BARU DAN REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA MODERN”

A.   Pendahuluan

Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan, baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba di hadapan Khaliq-nya dan juga sebagai Khalifatu fil ardh (pemelihara) pada alam semesta ini. Dengan demikian, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapkan generasi penerus (peserta didik) dengan kemampuan dan keahliannya (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah lingkungan masyarakat.

Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan ini benar-benar bisa diaktualisasikan dan diaplikasikan tepatnya pada zaman kejayaan Islam, yang mana itu semua adalah sebuah proses dari sekian lama kaum muslimin berkecimpung dalam naungan ilmu-ilmu ke-Islaman yang bersumber dari Quran dan Sunnah. Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang jazirah Arab, Afrika, Asia Barat hingga Eropa timur. Untuk itu, adanya sebuah paradigma pendidikan yang memberdayakan peserta didik merupakan sebuah keniscayaan. Kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam pada masa ke-emasan sepanjang abad pertengahan, di mana kebudayaan dan peradaban Islam berhasil memberikan Iluminatif (pencerahan) jazirah Arab, Afrika, Asia Barat dan Eropa Timur, hal ini merupakan bukti sejarah yang tidak terbantahkan bahwa peradaban Islam tidak dapat lepas dari peran serta adanya sistem pendidikan yang berbasis Kurikulum Samawi.

Saat ini dirasakan ada keprihatinan yang sangat mendalam tentang dikotomi ilmu agama dengan ilmu umum. Kita mengenal dan meyakini adanya sistem pendidikan agama dalam hal ini pendidikan Islam dan sistem pendidikan umum. Kedua sistem tersebut lebih dikenal dengan pendidikan tradisional untuk yang pertama dan pendidikan modern untuk yang kedua.

Seiring dengan itu berbagai istilah yang kurang sedap pun hadir ke permukaan, misalnya, adanya fakultas agama dan fakultas umum, sekolah agama dan sekolah umum. Bahkan dikotomi itu menghasilkan kesan bahwa pendidikan agama berjalan tanpa dukungan IPTEK, dan sebaliknya pendidikan umum hadir tanpa sentuhan agama.

Usaha untuk mencari paradigma baru pendidikan Islam tidak akan pernah berhenti sesuai dengan zaman yang terus berubah dan berkembang. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pemikiran untuk mencari paradigma baru pendidikan itu bersifat reaktif dan defensive, yaitu menjawab dan membela kebenaran setelah adanya tantangan. Upaya mencari paradigma baru, selain harus mampu membuat konsep yang mengandung nilai-nilai dasar dan strategis yang a-produktif dan antisipatif, mendahului perkembangan masalah yang akan hadir di masa mendatang, juga harus mampu mempertahankan nilai-nilai dasar yang benar-benar diyakini untuk terus dipelihara dan dikembangkan.[1] Makalah ini berjudul Rekonstruksi Pendidikan Islam di Indonesia “Paradigma baru dan Rekonstruksi Pendidikan Islam di Era Modern”.

Selengkapnya silhkan download 

 

Menumbuhkan Kepekaan Sosial

Puasa ramadhan melahirkan sebuah konsepsi bahwa seseorang yang melaksakan ibadah puasa ramadhan tidak hanya saja melahirkan ekspresi dari orang yang cerdas secara spritual, tetapi juga cerdas secara emosional. Implikasi dari cerdar emosional inilah yang akan melahirkan kepekaan sosial, menumbuhkan sikap empati terhadap sesama manusia dalam bentuk ikut merasakan lapar yangbiasadialami orang-orang berkekurangan, mendorong gerakan memberi, membagi, bersedekah, serta disiplin terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku.Sebenarnya,konsepsitentang kepekaan sosial telah diintrodusir oleh Islam sejak kedatangannya. Salah satu contohnya adalah kewajiban membayar zakat, infak, bersedekah[QS. Al-Maidah:55],  menyantuni fakir miskin.

Islam hadir sebagai agama rahmatan lilalamin dalam konteks ibadahnya selalu memiliki ajaran-ajaran yang tidak hanya mengandung esensi ketuhanan (uluhiyyah) semata, tetapi juga esensi kemanusiaan (ubudiyyah)-insaniayah.Ajaran Islammembangun keseimbangan antara relasi  ketuhanan dan kemanusiaan, antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat secara seimbang.Islam selalu menerapkan dua pilar utama untuk menyeimbangkan kehidupan manusia dengan membentangkan dua garis relasi, yaitu;  (1) relasi manusia secara vertikal dengan Tuhan-nya  dalam hal ibadah (ubudiyah),hablum minallah;dan (2) relasi secara horizontal manusia dengan manusia dandengan makhluk yang lainnya dalam wujud amaliyah sosial,hablum minan naas[QS.Ali Imron:112].  Kedua relasi ini harus berjalan seimbang dalam tata kehidupan manusia dan lingkungannya.

Untuk menata hubungan “horizontal”, seseorang diharapkan mampu berdialog dengan Tuhan-nya, di mana seseorang harus memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatannya dalam relasi dengan sesamanya akan selalu terlihat dan terkontrol. Sementara dalampenataan hubungan “vertikal” dengan Tuhan-nya, seseorang kerap kali lupakan kewajibannya dalam menata hubungan sosialnya. Terkadang seseorang merasa lepas dari relasi horizontal dengan sesamanya, artinya tidak memiliki kewajiban dalam hal menolong sesamanya.Dalam kenyataan sehari-hari, tidak heran bahwa tidak sedikit orang yang selalu melaksanakan dan taat beribadah secara khusu’kepada Tuhan-nya ditempat-tempat ibadah, tetapidalam relasi sosialnyasangat rendah, karena ia tidak peduli dengan sesama, tidak empati terhadap sesamanya, bahkan pada tingkat yang sangat ekstrim berlaku zalim terhadap sesamanya.

Selengkapnya silahkan download 

Puasa Ramadhan Membentuk Kesalehan Individual dan Kesalehan Sosial

Ibadah puasa ramadhan merupakan saranatarbiyah, ta’lim, ta’dib untuk mendidik, membina, melatih, membentuk kepribadian manusia, agar  menjadi pribadi dewasa, unggul,dan  bertaqwa kepada Allah.Puasa ramadan merupakan latihan perwujudan diri sebagai proses untuk menjadi manusia yang sempurna-takwa-insan kamil.  Puasa ramadhan memberi pengaruh posetif terhadap diri baik pada aspek jasmani, jiwa, dan kehidupan sosial.Tentu saja mereka yang berpuasa terlatih dirinya untuk menjadi insan takwa, dewasa, kuat rohani, jasmaninya, dan tercerahkan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pelaksanaan puasa ramadan merupakan titik balik peradaban manusia untuk melatih diri manusia membangun relasi manusia dengan Tuhan-nya (hablun minallah) dan relasi manusia dengan manusia (hablun minan naas).

Ibadah puasa ramadhan adalah wajib hukumnya bagi orang-orang yang beriman.Tujuan puasa ramadhan adalah“la’allakum tattaquun”, agar menjadi manusia yang bertakwa (baca:QS.Al-Baqarah:183). Maka dalam melaksakan ibadah puasa ramadhan telah disyariatkan untuk membentuk insan bertakwa, yaitu pribadi manusia yang memiliki “dimensi ilahiyah” yang tinggi dan memiliki “dimensi insaniah”yang sempurna.Tetapi, seruan kepada takwa itu tidak hanya dalam ibadah puasa saja, tetapi juga pada ibadah-ibadah lain, bahkan segala aspek dalam muamalah atau tata hubungan manusia dengan manusia.Sebab suatu kegiatan ibadah juga mempunyai tujuan agar manusia membiasakan diri untuk mempertajam kepekaan sosialnya.

Di dalam “muttaqin” terdapat dua dimensi, yakni kesalehan individu dan kesalehan sosial. Pertama, dalam berpuasa, latihan untuk membentuk kesalehan individu yang merupakan target utama mencapai muttaqim. Dengan berpuasa berarti telah menandakan kepatuhan dan ketakwaan kepada Ilahi dan sadar perannya sebagai khalifah di muka bumi.Bentuk kesalehan inidividual yang terlatih dalam ibadah puasa yaitu memiliki semangat “spiritualitas” yang tinggi  dan diwujudkan dalam sistem kepercayaan yang menuntut manusia untuk melaksanakan apa yang baik (taqwā), menolak apa yang batil (fujūr). Kedua, kesalehan sosial adalah ibadah puasa melatih manusia untuk memiliki keperdulian sosial, memiliki sikap toleransi, sikap menghargai sesama manusia, meningkatkan kedisiplinan melalui pengaturan hidup sehari-hari di masyarakatdalam artian mematuhi semua aturan yang berlaku dalam kehidupan, baik itu norma, hukum, dan etika.

Selengkapnya silahkan HUJAIR; 2017; _1_ Hikmah Puasa; Kolom KR;2

Mengembangkan Model Ideal Pendidikan Islami

Suatu analisis: Pendidikan berbasis nilai Islami adalah pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumbernya al-Qur’an dan Hadis. Ahmad Syafii Ma’arif, model pendidikan Islam,  tidak lagi menjebak kita dalam bentuk kehidupan yang sekuler atau model pendidikan yang hanya menyelipkan ayat-ayat” atau hanya sekedar justifikasi ayat-ayat al-Qur’an untuk melegitimasi persoalan-persoalan dalam proses pengajaran (baca:Ahmad Syafii Ma’arif, 1997:66)

Mencermati kondisi pendidikam Islam sekarang ini, maka lembaga pendidikan Islam, katakan saja UII, sudah harus berani merekonstruksi dan mengembangkan pendidikan berbasis nilai-nilai Islami, didasarkan pada telaah; (1) keterpaduan fondasi filosofis dan teori yang mendasari sistem pendidikan Islam; (2) pendidikan yang dikembangkan dan dijabarkan atas dasar asumsi-asumsi yang kokoh dan jelas tentang; (a)  konsep ketuhanan (ilahiyah); (b) konsep dasar manusia (insaniyah), humanis; (c) konsep dasar tentang alam semesta atau comologis; (d) konsep tentang lingkungan sosial-kultural; (e) konsep ilmu pengetahuan dan teknologi, diintegrasikan dengan al-Qur’an-hadis, secara utuh, integratif, komprehensif, interaktif, sehingga mampu menjawab persoalan-persoalan kehidupan umat manusia; (3) menganalisis asumsi-asumsi masa depan yang ingin diujudkan oleh produk pendidikan Islami.

Dari asumsi masa depan yang ingin diwujudkan,maka pendidikan Islami harus didasarkan pada nila-nilai (values) ilahiyah,dikembangkan dengan visi  dan misi pendidikan yang jelas terarah, baik pada tingkat makro maupun mikro, yaitu; (1) Untuk mengembangkan visi pendidikan Islami pada tingkat makro, diperlukan perumusan pendidikan Islami yang dapat menunjang transformasi menuju masyarakat berkeadaban, memiliki identitas berdasarkan nilai-nilai Islam. Menitikberatkan pada pembentukan ’abd atau hamba Allah, manusia yang memiliki aktualisasi diri, kreatif, inovatif, dan interperdulian terhadap perubahan. (2) Untuk mengembangkan visi pada tingkat mikro, perumusan pendidikan Islami harus dapat menghasilkan manusia religius ilahiyah,manusia berbudaya-berperadaban,  memiliki pengetahuan dan teknologi, memiliki keterampilan dan profesional,  memiliki integritas pribadi yang merdeka, manusia berkepribadian, moral dan akhlakul karimah, memiliki sikap toleransi kemanusia tinggi, menghargai hak asasi manusia, memiliki orientasi global, tapi berpikir dalam konteks lokal.  (3) Tujuan dan kurikulum pendidikan Islam harus didasarkan pada: prinsip menyeluruh, serasi, efisien, efektivitas, dan dinamis; orientasinya harus jelas, bersifat problematik, strategis, antipatif, menyentuh aspek praktis dan kebutuhan manusia;  membangun dan mengembangkan manusia, masyarakat secara utuh, menyeluruh sebagai insan kamilyang bertaqwa.

Selengkapnya silahkan download

Halaman Berikutnya »