REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA “PARADIGMA BARU DAN REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA MODERN”

A.   Pendahuluan

Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan, baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba di hadapan Khaliq-nya dan juga sebagai Khalifatu fil ardh (pemelihara) pada alam semesta ini. Dengan demikian, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapkan generasi penerus (peserta didik) dengan kemampuan dan keahliannya (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah lingkungan masyarakat.

Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan ini benar-benar bisa diaktualisasikan dan diaplikasikan tepatnya pada zaman kejayaan Islam, yang mana itu semua adalah sebuah proses dari sekian lama kaum muslimin berkecimpung dalam naungan ilmu-ilmu ke-Islaman yang bersumber dari Quran dan Sunnah. Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang jazirah Arab, Afrika, Asia Barat hingga Eropa timur. Untuk itu, adanya sebuah paradigma pendidikan yang memberdayakan peserta didik merupakan sebuah keniscayaan. Kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam pada masa ke-emasan sepanjang abad pertengahan, di mana kebudayaan dan peradaban Islam berhasil memberikan Iluminatif (pencerahan) jazirah Arab, Afrika, Asia Barat dan Eropa Timur, hal ini merupakan bukti sejarah yang tidak terbantahkan bahwa peradaban Islam tidak dapat lepas dari peran serta adanya sistem pendidikan yang berbasis Kurikulum Samawi.

Saat ini dirasakan ada keprihatinan yang sangat mendalam tentang dikotomi ilmu agama dengan ilmu umum. Kita mengenal dan meyakini adanya sistem pendidikan agama dalam hal ini pendidikan Islam dan sistem pendidikan umum. Kedua sistem tersebut lebih dikenal dengan pendidikan tradisional untuk yang pertama dan pendidikan modern untuk yang kedua.

Seiring dengan itu berbagai istilah yang kurang sedap pun hadir ke permukaan, misalnya, adanya fakultas agama dan fakultas umum, sekolah agama dan sekolah umum. Bahkan dikotomi itu menghasilkan kesan bahwa pendidikan agama berjalan tanpa dukungan IPTEK, dan sebaliknya pendidikan umum hadir tanpa sentuhan agama.

Usaha untuk mencari paradigma baru pendidikan Islam tidak akan pernah berhenti sesuai dengan zaman yang terus berubah dan berkembang. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pemikiran untuk mencari paradigma baru pendidikan itu bersifat reaktif dan defensive, yaitu menjawab dan membela kebenaran setelah adanya tantangan. Upaya mencari paradigma baru, selain harus mampu membuat konsep yang mengandung nilai-nilai dasar dan strategis yang a-produktif dan antisipatif, mendahului perkembangan masalah yang akan hadir di masa mendatang, juga harus mampu mempertahankan nilai-nilai dasar yang benar-benar diyakini untuk terus dipelihara dan dikembangkan.[1] Makalah ini berjudul Rekonstruksi Pendidikan Islam di Indonesia “Paradigma baru dan Rekonstruksi Pendidikan Islam di Era Modern”.

Selengkapnya silhkan download 

 

Menumbuhkan Kepekaan Sosial

Puasa ramadhan melahirkan sebuah konsepsi bahwa seseorang yang melaksakan ibadah puasa ramadhan tidak hanya saja melahirkan ekspresi dari orang yang cerdas secara spritual, tetapi juga cerdas secara emosional. Implikasi dari cerdar emosional inilah yang akan melahirkan kepekaan sosial, menumbuhkan sikap empati terhadap sesama manusia dalam bentuk ikut merasakan lapar yangbiasadialami orang-orang berkekurangan, mendorong gerakan memberi, membagi, bersedekah, serta disiplin terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku.Sebenarnya,konsepsitentang kepekaan sosial telah diintrodusir oleh Islam sejak kedatangannya. Salah satu contohnya adalah kewajiban membayar zakat, infak, bersedekah[QS. Al-Maidah:55],  menyantuni fakir miskin.

Islam hadir sebagai agama rahmatan lilalamin dalam konteks ibadahnya selalu memiliki ajaran-ajaran yang tidak hanya mengandung esensi ketuhanan (uluhiyyah) semata, tetapi juga esensi kemanusiaan (ubudiyyah)-insaniayah.Ajaran Islammembangun keseimbangan antara relasi  ketuhanan dan kemanusiaan, antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat secara seimbang.Islam selalu menerapkan dua pilar utama untuk menyeimbangkan kehidupan manusia dengan membentangkan dua garis relasi, yaitu;  (1) relasi manusia secara vertikal dengan Tuhan-nya  dalam hal ibadah (ubudiyah),hablum minallah;dan (2) relasi secara horizontal manusia dengan manusia dandengan makhluk yang lainnya dalam wujud amaliyah sosial,hablum minan naas[QS.Ali Imron:112].  Kedua relasi ini harus berjalan seimbang dalam tata kehidupan manusia dan lingkungannya.

Untuk menata hubungan “horizontal”, seseorang diharapkan mampu berdialog dengan Tuhan-nya, di mana seseorang harus memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatannya dalam relasi dengan sesamanya akan selalu terlihat dan terkontrol. Sementara dalampenataan hubungan “vertikal” dengan Tuhan-nya, seseorang kerap kali lupakan kewajibannya dalam menata hubungan sosialnya. Terkadang seseorang merasa lepas dari relasi horizontal dengan sesamanya, artinya tidak memiliki kewajiban dalam hal menolong sesamanya.Dalam kenyataan sehari-hari, tidak heran bahwa tidak sedikit orang yang selalu melaksanakan dan taat beribadah secara khusu’kepada Tuhan-nya ditempat-tempat ibadah, tetapidalam relasi sosialnyasangat rendah, karena ia tidak peduli dengan sesama, tidak empati terhadap sesamanya, bahkan pada tingkat yang sangat ekstrim berlaku zalim terhadap sesamanya.

Selengkapnya silahkan download 

Puasa Ramadhan Membentuk Kesalehan Individual dan Kesalehan Sosial

Ibadah puasa ramadhan merupakan saranatarbiyah, ta’lim, ta’dib untuk mendidik, membina, melatih, membentuk kepribadian manusia, agar  menjadi pribadi dewasa, unggul,dan  bertaqwa kepada Allah.Puasa ramadan merupakan latihan perwujudan diri sebagai proses untuk menjadi manusia yang sempurna-takwa-insan kamil.  Puasa ramadhan memberi pengaruh posetif terhadap diri baik pada aspek jasmani, jiwa, dan kehidupan sosial.Tentu saja mereka yang berpuasa terlatih dirinya untuk menjadi insan takwa, dewasa, kuat rohani, jasmaninya, dan tercerahkan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pelaksanaan puasa ramadan merupakan titik balik peradaban manusia untuk melatih diri manusia membangun relasi manusia dengan Tuhan-nya (hablun minallah) dan relasi manusia dengan manusia (hablun minan naas).

Ibadah puasa ramadhan adalah wajib hukumnya bagi orang-orang yang beriman.Tujuan puasa ramadhan adalah“la’allakum tattaquun”, agar menjadi manusia yang bertakwa (baca:QS.Al-Baqarah:183). Maka dalam melaksakan ibadah puasa ramadhan telah disyariatkan untuk membentuk insan bertakwa, yaitu pribadi manusia yang memiliki “dimensi ilahiyah” yang tinggi dan memiliki “dimensi insaniah”yang sempurna.Tetapi, seruan kepada takwa itu tidak hanya dalam ibadah puasa saja, tetapi juga pada ibadah-ibadah lain, bahkan segala aspek dalam muamalah atau tata hubungan manusia dengan manusia.Sebab suatu kegiatan ibadah juga mempunyai tujuan agar manusia membiasakan diri untuk mempertajam kepekaan sosialnya.

Di dalam “muttaqin” terdapat dua dimensi, yakni kesalehan individu dan kesalehan sosial. Pertama, dalam berpuasa, latihan untuk membentuk kesalehan individu yang merupakan target utama mencapai muttaqim. Dengan berpuasa berarti telah menandakan kepatuhan dan ketakwaan kepada Ilahi dan sadar perannya sebagai khalifah di muka bumi.Bentuk kesalehan inidividual yang terlatih dalam ibadah puasa yaitu memiliki semangat “spiritualitas” yang tinggi  dan diwujudkan dalam sistem kepercayaan yang menuntut manusia untuk melaksanakan apa yang baik (taqwā), menolak apa yang batil (fujūr). Kedua, kesalehan sosial adalah ibadah puasa melatih manusia untuk memiliki keperdulian sosial, memiliki sikap toleransi, sikap menghargai sesama manusia, meningkatkan kedisiplinan melalui pengaturan hidup sehari-hari di masyarakatdalam artian mematuhi semua aturan yang berlaku dalam kehidupan, baik itu norma, hukum, dan etika.

Selengkapnya silahkan HUJAIR; 2017; _1_ Hikmah Puasa; Kolom KR;2

Mengembangkan Model Ideal Pendidikan Islami

Suatu analisis: Pendidikan berbasis nilai Islami adalah pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumbernya al-Qur’an dan Hadis. Ahmad Syafii Ma’arif, model pendidikan Islam,  tidak lagi menjebak kita dalam bentuk kehidupan yang sekuler atau model pendidikan yang hanya menyelipkan ayat-ayat” atau hanya sekedar justifikasi ayat-ayat al-Qur’an untuk melegitimasi persoalan-persoalan dalam proses pengajaran (baca:Ahmad Syafii Ma’arif, 1997:66)

Mencermati kondisi pendidikam Islam sekarang ini, maka lembaga pendidikan Islam, katakan saja UII, sudah harus berani merekonstruksi dan mengembangkan pendidikan berbasis nilai-nilai Islami, didasarkan pada telaah; (1) keterpaduan fondasi filosofis dan teori yang mendasari sistem pendidikan Islam; (2) pendidikan yang dikembangkan dan dijabarkan atas dasar asumsi-asumsi yang kokoh dan jelas tentang; (a)  konsep ketuhanan (ilahiyah); (b) konsep dasar manusia (insaniyah), humanis; (c) konsep dasar tentang alam semesta atau comologis; (d) konsep tentang lingkungan sosial-kultural; (e) konsep ilmu pengetahuan dan teknologi, diintegrasikan dengan al-Qur’an-hadis, secara utuh, integratif, komprehensif, interaktif, sehingga mampu menjawab persoalan-persoalan kehidupan umat manusia; (3) menganalisis asumsi-asumsi masa depan yang ingin diujudkan oleh produk pendidikan Islami.

Dari asumsi masa depan yang ingin diwujudkan,maka pendidikan Islami harus didasarkan pada nila-nilai (values) ilahiyah,dikembangkan dengan visi  dan misi pendidikan yang jelas terarah, baik pada tingkat makro maupun mikro, yaitu; (1) Untuk mengembangkan visi pendidikan Islami pada tingkat makro, diperlukan perumusan pendidikan Islami yang dapat menunjang transformasi menuju masyarakat berkeadaban, memiliki identitas berdasarkan nilai-nilai Islam. Menitikberatkan pada pembentukan ’abd atau hamba Allah, manusia yang memiliki aktualisasi diri, kreatif, inovatif, dan interperdulian terhadap perubahan. (2) Untuk mengembangkan visi pada tingkat mikro, perumusan pendidikan Islami harus dapat menghasilkan manusia religius ilahiyah,manusia berbudaya-berperadaban,  memiliki pengetahuan dan teknologi, memiliki keterampilan dan profesional,  memiliki integritas pribadi yang merdeka, manusia berkepribadian, moral dan akhlakul karimah, memiliki sikap toleransi kemanusia tinggi, menghargai hak asasi manusia, memiliki orientasi global, tapi berpikir dalam konteks lokal.  (3) Tujuan dan kurikulum pendidikan Islam harus didasarkan pada: prinsip menyeluruh, serasi, efisien, efektivitas, dan dinamis; orientasinya harus jelas, bersifat problematik, strategis, antipatif, menyentuh aspek praktis dan kebutuhan manusia;  membangun dan mengembangkan manusia, masyarakat secara utuh, menyeluruh sebagai insan kamilyang bertaqwa.

Selengkapnya silahkan download

RADIKALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN

Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, maka diperlukan pendidikan yang harus memberikan gambaran dan idealitas moral agamanya secara kontekstual. Dalam proses pendidikan diperlukan peninjauan ulang terhadap doktrin-doktrin agama yang kaku,seperti halnya doktrin jihad.Artinya, jihad bukan lagi dipahami sebagai persetujuan Islam untuk menggunakan kekerasan dalam menyebarkan agama. Pluralitas agama dan keyakinan tidak lagi dipahami sebagai potensi kerusuhan, melainkan menjadi potensi untuk  diajak bersama melaksanakan ajaran demi kepentingan kemanusiaan. Seluruh agama harus mengklaim  perdamaian dan keselamatan manusia. Dalam konteks ini pendidikan memiliki peran penting  untuk menumbuhkan sikap awal, agar tidak hanya dapat menerima keberdaan agama lain saja, tapi juga mampu bekerja sama dengan keyakinan atau agama yang berbeda. Ini berarti,pendidikan harus memungkinkan tumbuhnya persaudaraan dalam kebersamaan tersebut, sehingga dapat bersama membangun dunia baru yg lebih bermakna bagi seluruh manusia. Disain pendidikanharus mengakomodasi pluralis dan toleran. Diperlukan sikap guru-guru agama yang toleran dan pluralis pula.Kata kunci; Pendidikan yang humanis.

Selengkapnya silahkan download

Ramadhan sebagai bulan Pendidikan Karakter

Ibadah puasa ramadhan merupakan sarana tarbiyahuntuk membina, melatih, atau membentuk kepribadian manusia, agar  menjadi pribadi unggul yang bertaqwa kepada Allah.Ramadhan hadir sebagai bulan pendidikan (syahrul Tarbiyah).Pendidikan dalam pengertian yang komprehensif-integratif.Proses pendidikan yang tidak hanya memiliki makna sebagai sarana pelatihan saja, tetapi lebih dari itu, yaitu memiliki makna bimbingan, pembiasaan perilaku, pembudayaan nilai, dalam rangka tumbuhnya karakter-karakter positif, tumbuhnya akhlakul karimah,lahirnya jiwa keagamaan yang inovatif, kreatif, dan transformatif.

Bulan ramadhan menjadi momentum yang sangat tepat bagi orang beriman untuk merevitalisasi kembali nilai-nilai spritualitasnya.Puasa ramadhan dipakai sebagai sarana untuk revolusi mental dan karakterdengan melakukan latihan, pembiasaan, agar manusialebih terbiasamengenal kewajibannya, berlatihkejujuran, sabar, dan kecerdasan emsional.Melatih meningkatkan kecerdasansosial,memiliki kepekaan (sense of responsibility) dan tanggung jawab sosial.Akan lahirmanusia yang memiliki sikap empati pada sesama, merasakan penderitaan orang lain, berbuat dan bermanfaat untuk orang lain,orang yang toleran, sebagai sikap kesalehan sosial.

Dalam ibadah puasa melatih kita untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, sehingga mempunyai perasaan keterikatan dengan Allah SWT dan dengan diri sendiri.Melatih sikap spiritualisme dan moral-akhlak. Menuntut manusia untuk melaksanakan apa yang baik (taqwā), menolak apa yang batil (fujūr).Selain itu dalam ibadah puasa juga melatih kita untukmeningkatkan kedisiplinan melalui pengaturan hidup sehari-hari,dalam artian mematuhi semua aturan yang berlaku dalam kehidupan, baik itu norma-norma agama, atauran negara, maupun norma-norma di masyarakat.Karena itu, ramadhan menjadi sarana untuk mendidik, melatih, membimbingdan penanaman nilai-nilaikarakter.

Setidanya dalam puasa ramadhan ada bebarapa nilai-nilai karakter yang dapat diambil, diantaranya:(1) Puasa mengajarkan kita adanya sikap ketunduhan dan kepatuhan kepada Sang Pencipta Allah SWT denganmengerjakan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang. (2)  Puasa mengajarkan manusia untuk menegakkan nilai-nilai kejujuran, bersikap benar, dan amanah.(3) Puasa mengajarkan manusia untuk menghilangkan sifat-sifat angkuh, sombong, bakhil, egois, dan sifat-sifat tidak terpuji lainnya. (4) Puasa mengajarkan manusia untukberjiwa sosial,memiliki kepekaan sosial yang tinggi, sehinggalahirlahsikap kritis, peduli terhadap lingkungan sosial sekitar, terjadi pertautan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. (5) Puasa mengajarkan manusiauntuk berusaha mampu untuk menahan, mengendalikan diri, bersifat sabar,dan hidup sederhana.

Selengkapnya silakan download 

Hikmah; Manfaat,Tujuan di Balik Puasa Ramadhan

Ibadah puasa ramadhan adalah wajib hukumnya di dalam Islam.Puasa bila ditinjau dari segi bahasa adalah menahan diri. Dari sisi syara’ adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa sejak dari terbit fajar sampai terbenam matahari yang disertai dengan niat.Ibadah puasa memiliki hikmah yang luar biasa. Selain telah diwajibkan pada umat Nabi Muhammad, puasa juga telah diwajibkan kepada umat-umat manusia terdahulu.

Kewajiban puasa adalah kewajiban yang sudah ada sejak dulu kala kepada umat-umat manusia terdahulu.Inilah yang menjdi keistimewaan puasa, sehingga orang terdahulupun memiliki tuntunan ibadah puasa.Katakan saja,“puasa sudah dikenal sejak zaman bangsa Mesir Kuno dan selanjunta meluas sampai ke Yunani dan Romawi. Dalam Taurat, puasa juga disebutkan bahwa orang yang melakukan puasa sangat dipuji, hanya saja tidak disebut wajibnya puasa.Nabi Musa sendiri melaksanakan puasa selama 40 hari. Dalam kitab injil juga tidak ada bagian yang menyebutkan wajibnya puasa. Tetapi disebutkan bahwa puasa merupakan salah satu jenis ibadah yang sangat terpuji (Amad Mustafa Al-Maraghi, 1984:124).

Allah mengabarkan kepada umat Muhammad,bahwa puasa itu juga telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa.Inipun dalam rangka memotivasi dan menghibur hati umat manusia sekarang ini. Tatkala mereka mengetahui bahwa puasa juga sudah diwajibkan kepada umat-umat selain mereka, niscaya puasa itu akan terasa ringan bagi mereka. Ini merupakan salah satu cara untuk mendidik, memotivasi, dan menghibur umat manusia yang berpuasa.

Selengkapnya silahkan download 

TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA REFORMASI DAN INFORMASI, PERUBAHAN PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Era reformasi ditandai dengan tergulingnya reszim pemerintahan Soeharto,  dibarengi dengan krisis moneter, ekonomi, dan politik telah mendorong arus pembaruan dalam semua aspek kehidupan (Hujair AH. Sanaky, 2015:1). Pembaruan dan reformasi[1] telah menggerakkan perubahan dalam semua aspek kehidupan, bahkan berdampak pada euforia[2] kebebasan yang nyaris kebablasan.[3] Era reformasi, selain memberikan harapan besar hadirnya kebebasan, keamanan, dan kenyaman untuk hidup di bumi pertiwi Indonesia ini.

Euforia reformasi telah menggiring keinginan publik untuk membongkar banyak hal dalam tatanan kehidupan bangsa Indonesia, termasuk bidang pendidikan, walaupun sampai saat ini reformasi belum menunjukkan hasil dan perubahan yang signifikant. Kondisi krisis moneter dengan kompetisi bebas di ambang pintu dan sudah dimulai, situasi politik yang kurang kritis dan demokratis, juga ikut membawa perubahan pada kehidupan masyarakat Indonesia. Melihat kenyataan ini, maka  ada baiknya kita  berfikir sejenak tentang kondisi dan pengkondisian Sumber Daya Manusia yang ada di Indonesia.

Tanpaknya wajah pendidikan kita di Indonesia harus dirubah, sebab proses perjalanan peradaban modern bangsa ini ke masa depan akan bergerak di atas peralatan yang amat rapuh. Katakan saja ada 88.8 persen sekolah di Indonesia, mulai dari SD hingga SMA/SMK, belum melewati mutu standar pelayanan minimal.  Berdasarkan data yang ada, 40.31 persen dari 201.557 sekolah di Indonesia berada di bawah standar pelayanan minimal, 48.89 persen pada posisi standar pelayanan minimal, dan 10.15 persen yang memenuhi standar nasional pendidikan. Katakan saja, sekolah-sekolah yang dinilai mampu bersaing dengan mutu pendidikan negara-negara lain, yang selalu disebut dengan istilah rintisan sekolah bertaraf internasional hanya 0.65 persen.  Tercatat sekitar 3,600 perguruan tinggi swasta dan hanya 92 perguruan tinggi negeri. Dari jumlah itu terdapat 6.000 program studi yang belum terakreditasi (Kompas, 18/5/2012), 42 persen dari semua tenaga pengajarnya masih berpendidikan S-1. Hanya 6-7 persen dari semua program studi yang terakretitasi A (Hafid Abbas, 2015:7). Inilah kondisi dan realitas pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan.

Saat ini pendidikan di Indonesia berhadapkan dengan perkembangan dunia yang semakin terbuka dan transfaran. Hal-hal yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin, hal-hal yang tadinya tabu sekarang menjadi profan dan massal. Apa yang terjadi kadang-kadang sulit diprediksi.  Muncul pertanyaannya, siapkah kita untuk menghadapi kompetisi bebas dalam dunia reformasi dan globalisasi? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu saja setiap orang akan memberikan respon menurut sudut pandangnya masing-masing. Ada yang dengan lantang menyatakan siap menghadapi perubahan tersebut dengan “persiapan” yang mungkin kurang memadai.  Ada pula dengan suara yang “kurang optimis” menyatakan belum siap dengan berbagai perubahan. Biarlah perubahn itu terjadi. Sementara kita menghadapi percepatan perkembangan teknologi informasi comunikasi yang begitu cepat,  menyebabkan terjadi beberapa konsekuensi logis seperti percepatan aliran ilmu pengetahuan, dan tentu saja akan menjadi ancaman bagi sistem pendidikan yang selama ini berjalan.

Selengkapnya silahkan download 

Peran Pendidikan Keagamaan dalam Pembentukan Pribadi Toleran

Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Indonesia merupakan bangsa multikultural, dihuni oleh beragam ras, etnis, budaya dan agama. Keragaman yang bersifat natural dan kodrati ini akan menjadi suatu manisfestasi yang berharga ketika diarahkan dengan tepat menuju situasi dan keadaan yang kondusif. Namun, sebaliknya, ketika tidak diarahkan dengan pola yang tepat, keragaman ini akan menimbulkan benturan peradaban (clash of civilization), sering menghasilkan situasi konflik berdarah, yang menciptakan perpecahan dan disintegrasi sosial.

Dengan keragaman ras, etnis, budaya, dan agama, diperlukan pendidikan yang harus memberikan gambaran dan idealitas moral agamanya secara kontekstual. Maka dalam proses pendidikan diperlukan peninjauan ulang terhadap doktrin-doktrin agama yang kaku dan kurang humanis selama ini dilaksanakan.  Pluralitas agama dan keyakinan tidak lagi dipahami sebagai potensi kerusuhan, melainkan menjadi potensi untuk diajak bersama melaksanakan ajaran demi kepentingan kemanusiaan. Seluruh agama harus mengklaim  membangun peradaban (civilization),  perdamaian dan keselamatan manusia.

Pendidikan memiliki peran penting  untuk menumbuhkan sikap awal, agar tidak hanya dapat menerima keberdaan agama lain saja, tapi juga mampu bekerja sama dengan keyakinan atau agama yang berbeda. Ini berarti, pendidikan harus memungkinkan tumbuhnya persaudaraan dalam kebersamaan tersebut, sehingga dapat bersama membangun dunia baru yang lebih bermakna bagi seluruh manusia. Disain pendidikan harus mengakomodasi pluralis dan toleran. Ini bearti diperlukan materi pembelajaran dan sikap guru-guru agama yang toleran dan pluralis pula.

Selengkapnya silahkan download 

Bahan Ajar Modul VI : Metodologi Studi Islam

Kajian pemikiran Islam sempat menjadi perdebatan. Secara garis besar, kita dapat membedakan tiga bidang pemikiran dan kajian Islam, yaitu aliran kalam (teologi), aliran fikih, dan aliran tasawuf.  Pada pembahasan ini, akan dibicarakan ketiga bidang pemikiran tersebut dengan menggunakan pendekatan kronologis yang terdapat dalam sejarah Islam.

1.      Aliran-aliran Kalam

Islam diyakini sebagai agama “rahmatan li al ‘alamin”, tetapi ironisnya para penganutnya ternyata tidak selamanya bersifat posetif. Salah satu buktinya adalah peristiwa tahkim, di mana peristiwa ini telah membuat bencana bagi umat Islam sehingga terpecah, paling tidak menjadi “dua kelompok besar”.  Kelompok pertama adalah pendukung Mauawiyah di antaranya adalah Amir bin As, sedangkan kelompok Islam kedua adalah pendukung Ali bin Abi Thalib.[1]

Perkekbangan selanjutnya, kelompk Ali bin Abi Thalib menjelang dan setelah tahkim  terpecah menjadi dua, yaitu kelompok yang senantiasa setia kepada kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, di antaranya adalah Abu Musa al-Asy’ari dan kelompok kedua, adalah kelompok yang membelot atau keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini, “meninggalkan barisan Ali bin Abi Thalib karena tidak setuju dengan sikap Ali ibn Abi Thalib dalam menerima arbitrase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan tentang khilafah dengan Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan”.[2]  Mereka menarik dukungannya dan sekaligus menentang Ali bin Abi Thalib dan  Mu’awiah bin Abi Sofian sekaligus. Kelompok ini dalam sejarah dikenal dengan kelompok Khawarij yang dipelopori olah ‘Atab bin A’war dan Urwa bin Jabir.[3]  Dari sini, mulai muncul dan berkembang aliran-aliran pemikiran  kalam (teologi) yang dikenal sampai sekarang:

Selengkapnya silahkan download 

 

Halaman Berikutnya »